RANGKAIAN KEABADIAN





*ma bingung sebenernya ni masuk puisi, crita or apz, ma khan bukan dari bidang sastra tapi ma ngerasa ni campuran dari keduanya, antara puisi nd cerita, tapi karena tulisan ini mengabadikan perasaan ma waktu itu ma kasi nama istilah sendiri ajah x yey, namanya “Rangkaian Keabadian”. sEbenernya rada2 malu juga c buat majang “rAngkaian Keabadian” ini, Cuma ya tiap orang pasti pernah ngerasain bener2 nyayangin seseorang, bener disayang, nd bener2 ditinggal, he2! Kita ga bole munafik dunx buat ngakuin semua itu, tulisan ini ga ada yang ma edit lagi so pure ngewakilin semua yang pernah ma rasain dulu. Melalui tulisan ini ma pengen ”mEngabadikan” semua perasaan yang pernah ma rasain dulu karena di dunia ini ga ada yang abadi, yang abadi itu justru perubahan, gitu khan?*
BOHLAM…KELAM…DIAM
DAN MATI…
langkah ini sedikit lelah mencari singasana untuk merebah. kubuka pintu yang membisu, menatap ratapan mataku yang begitu tertata. masih sama tidak ada yang berubah, poster-poster bodoh itu,foto-fotoku yang konon maha sempurna, meja belajar yang muak didekati orang idiot seperti aku dan masih… bohlam yang membuat kelam kamarku menjadi palsu yang berpura-pura menyilaukan. Kadang sekelumit sarafku memanggil kebengisan, kenapa bohlam itu begitu tenang dalam kebohongannya?jiwaku yang mati suri bersenandung dengan tenangnya; karena hima adalah seseorang yang paranoid gelap. Puas menerima tawaran dari jiwaku serabut sarafku memerintahkan ragaku untuk bersemayam di kasur itu, tak pernah terasa ini empuk, kasar atau sebagainya. Apa pun ini aku tidak pernah merasa ini adalah ini, itu adalah itu karena jiwaku begitu lelah, pasrah dan telah…
MATI SURI.
Mataku mencoba menata pandangannya dalam kelam yang diam. Bohlam itu tetap menjadi tokoh utama. Tapi karakternya sulit untuk dijadikan bahan resensi, semakin dipandang bohlam itu semakin menyilaukan, semakin dihindari bohlam itu membuat jiwa yang mati suri ini penasaran. Ah,bohlam itu… MENGINGATKANKU PADA “DIA”…
Mata ini ingin terlelap sejenak mencoba menenangkan muak yang ingin berontak. Tapi mata yang konon indah ini terlalu lemah mengatasi muak yang super rebel. Hima pun kembali terdiam mencoba menikam kelam yang diam.
BOHLAM ITU MATI…
Tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal, sampai jumpa atau sapaan apa pun itu.
NAPASKU..NAPASKU…NAPASKU..
Tertelan dalam teriak yang terisak. Mataku mengerdip seakan mancari kebalikan waktu adaptasi rodopsin. Kelenjar keringatku mencurahkan keringat dingin yang datang tidak pada waktu yang tepat. Napasku tak bisa lagi membedakan mana oksigen dan karbondioksida. Kepalaku mencoba mengheningkan cipta menenggelamkan kelam yang risau pada lipatan tangan HIMA yang mendekap hima. Saat seperti ini bukan “DIA” yang akan melindungi hima hanya HIMA yang sempat mati yang akan melindungi hima. HIMA tidak akan membiarkan hima terluka, terisak atau apa pun kata-kata yang menyebabkan hima menjadi tak berarti. Tetap tersungkur mencoba membujuk malam untuk pergi jauh memanggil pagi yang tidak jelas. Tangis yang bengis berunjuk rasa
BOHLAM SIALAN!PECUNDANG!MALAIKAT PALSU!ENYAH!!!ENYAH DARI ATAS SANA!!!
Umpatan yang menutup tirai kelelahanku. Tersadar, aku sudah terkapar lelap berhadapan dengan pagi yang hari itu cukup gagah, mungkin…
BOHLAM ITU KINI TELAH DIGANTI…
Warnanya berbeda, dulu sedikit kuning dan sekarang berwarna putih…
SEPERTI MALAIKAT YANG BISU..
Semua orang tak ingin melukai hima karena hima gadis yang manis, mudah terluka, mudah terdesak, mudah terisak dan begitu manja. belum lagi hima punya jiwa lain yang begitu tegar, begitu sadar, begitu terlalu untuk melindungi hima…HIMA takkan membiarkan hima yang sangat dicintainya mati tanpa arti…
TAPI…
KENYATAAN TERLETAK BERIBU-RIBU MIL JAUHNYA DARI HARAPAN…
HIMA hanya fiktif yang telah inaktif oleh seseorang di sana..bukan tapi seekor..bukan tapi sesosok
MALAIKAT YANG “KONON” ABADI
Bohlam itu masih bisa bersinar dengan anggunnya, seperti “KAU” ; “MALAIKATKU” YANG KUPUJA, YANG KUCINTA…
Tapi hima menghitung waktu lagi..menghitung berapa banyak pertanyaan yang penuh keraguan dalam hatinya..menghitung berapa kali HIMA telah terluka karena cinta..menghitung berapa kali hima akan mencintai malaikatnya…jawaban semua pertanyaan yang sok kritis itu cukup…bukan, sangat…bukan, bahkan sangat…ah, jawabannya..
SANGAT BANYAK…SANGAT BANYAK…SANGAT BANYAK… TAKKAN CUKUP WAKTU UNTUK MENGATAKAN SANGAT BANYAK…
KERAGUAN…
LUKA…
CINTA…
HANYA UNTUK MALAIKATKU…
MALAIKATKU…
MALAIKATKU…
MALAIKATKU…
TERDENGARKAH? BISIKAN ABADIKU…

MIMPI DAN ABADI
Lagu itu…masih mangalun pelan, sementara jariku dengan penuh keraguan menuangkan aliran perasaanku, entah luka apa yang akan ditorehkan lagi pada layar kaca yang terus bergerak mengalir bersama degupan jiwa,tangan dan setumpuq ide-ide yang kuanggap cemerlang. Entah kenapa setiap berhadapan dengan program ini, antara musik dan I yang berkedip-kedip aku berusaha memanggil puluhan pengharapan, ratusan pengalaman, ribuan impian, jutaan kenyataan dan milyaran kekecewaan…
YA, KEKECEWAAN…
Mempunyai hobi yang menyusun tumpukan mimpi dalam otakku yang sangat jauh berbeda dengan enstein membuatku merasa sangat terhibur dan melebur dalam sesuatu yang maha hampa…karena di hadapanku semuanya bukan kebebasan,bukan keindahan,bukan imajinasi yang abadi. Ah, aku harus tahu mimpi terletak di kutub utara dan abadi terletak di kutub selatan.
MIMPI DAN ABADI TAKKAN BERSATU…
TAKKAN MENYATU…
Mimpi dan abadi beku di singasana mereka masing-masing, pilu pada tuntutan mereka masing-masing dan rindu yang begitu pada perasaan kosong mereka masing-masing…
MASING-MASING…
Ha-ha, lucu sekali…aku seperti orang idiot yang membuang-buang waktu untuk mendeskripsikan sesuatu yang dianggap tak hidup. Serabut sarafku sedikit bersahabat,ingin menciptakan rumus-rumus yang menyatakan hubungan antara mimpi dan abadi untuk membuang waktu…
SEKALI LAGI, UNTUK MEMBUANG WAKTU!
Kita hidup sejak awal telah dikontrak menjadi budak waktu…hanya orang idiot, ah terlalu manis, hanya orang genius seperti aku yang menyadari,yang mengilhami,yang menangisi…hidup di bawah mati. Ingin kubuang jauh-jauh waktu agar semua di hadapanku tetap ku dekap seperti ini, takkan ada kata berubah,takkan ada kata kekecewaan atau kata-kata lain yang membunuh gejolak bisu ini.
GENGGAMAN ERAT TANGAN INI…
TAWA YANG TELAH MENUA INI…
CINTAMU YANG BERTAHTA INI…
Semuanya akan kumiliki selamanya…SELAMANYA!!!
Jika waktu bisa ku hunus, kujerat menjadi kepingan-kepingan, bukan serpihan-serpihan, bukan atom-atom yang tidak memilki valensi…sehingga semua orang hanya menganggap
AKU YANG BERARTI
HITAM TELAH MATI
DAN MIMPI YANG ABADI…
HANYA MIMPI…
DAN ABADI…
YANG MELAHIRKAN SELAMANYA
SELAMANYA…

SELAKSA MEREDUP
@#$%^Tercipta oleh CIPTA untuk yang TERPUJA^%$#@
Kupandangi langit malam yang terbentang kelam, tapi takkan membuatku letih ‘tuk ilhami kelamnya. Dalam surutnya kusut hidupku adakalanya kuadukan dalam dungunya malam. Entah ‘kan tenggelam atau malah makin tertunduk diam. Aku pun memandang bentangan semesta itu, ada langit yang redup saat harus hidup, adakah indahnya padam?
TIDAK!
Aku tetap melayarkan pandanganku dalam buaian diam yang dalam, hanya kebisuan semesta temani aku ‘tuk pandangi percikan sinar itu. Kasat mata tiada terelakkan, tapi redupnya buatku dendangkan tanya, adakah selaksa eloknya kelak akan kulihat?Tanpa pikir yang dalam aku yakin selaksa eloknya puji diriku yang lemah, tunjuk diriku tersenyum meski indah belum kulihat. Aku lihat lagi sinar-sinar kecil yang menjadi lilin malamku, aku sabda satu sebagai bintangku,
KUTUNJUK…
itukah yang sinarnya terlihat jelas tanpa harus memicingkan mata?Kurasa tidak!Ada sinar kecil yang curi lirikku, tidak terlalu hidup dan sabda dirinya redup juga tunjuk aku tiada lemah tapi “DEWASA” ‘tuk ilhami malam dan “LINCAH “ ‘tuk liarkan senyum terindahku untuknya. Aku pun senantiasa kepakkan eloknya senyumku hanya untuk bintang redup itu dan percikan sinar itu pun tetap redup terdiam ramah dalam
KELAM YANG DIAM.
Hari ini aku mengadu merdunya senduku pada malam, seperti biasa hanya kebisuan semesta yang sembunyikan indahnya. Ku takkan marah padamu malam yang redup, karena aku ingin sendiri…
INGIN SENDIRI…
Selaksa naluriku kembali mencuri redup itu, kenapa semakin redup?Diamnya yang ramah terasa semakin dingin layaknya acungkan aku pergi,
Tunjuk aku, PERGI JAUH darinya…
Aku pun tertunduk, manangis sepi tanpa rintihan air mata. Tidak boleh, aku tidak boleh menangis pikirku, ku tunjukkan senyum terindah ini pada bintang redup itu sekali lagi, kurasa senyumku yang damai mambuai hatiku yang sepi. Tapi, jiwaku rapuh, sinar bintang redup itu berkelip terakhir kali, terasa jiwanya perih melihatku, benci melihatku,dendam melihatku dan perlahan sinarnya jatuh, jauh dari pelupuk mataku… ADAKAH MENANTI RAPUH? …
Jiwaku ingin berlari mengejar jatuhnya sinar itu dan ingin kepakkan lelahku ‘tuk kembalikan sinarnya, tapi…
SAYAPKU PATAH! Enggan untuk terbang…
Dan kini yang terlihat aku terdiam kelam menanti bintang redup yang kucinta itu sekali lagi…
SEKALI LAGI…
Karena sinarmu yang redup itu tersimpan jauh di dalam palung hatiku yang terdalam. Meski kelammu dendam, tapi cinta ini memuja, hempas ini enggan melepas dan jiwa yang rapuh ini menanti redup yang enggan kembali…
ENGGAN KEMBALI…
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

4 Response to "RANGKAIAN KEABADIAN"

  1. kebookyut (DiVe) says:
    8 Agustus 2010 20.40

    ini postingan pertama.. ternyata hima emang suka bgt m puisi n prosa.. ckckck

  2. ciptanirmala says:
    15 Agustus 2010 04.56

    wehehehe...ni bikin asal waktu sma, he... ma mank suka...banget...

  3. Anonim Says:
    10 Maret 2012 11.07

    ini mah namanya pucita (puisi+cerita) :P

  4. ciptanirmala says:
    23 Maret 2012 00.34

    hax2! genre baru, keren2

Poskan Komentar

blog ini memiliki kutukan, jika anda tidak memberikan komentar setelah membaca blog ini, maka anda akan mengalami sembelit 7 turunan... makanya komen yax! *fufufu... tertawa licik*