PUISIKU, MELODI HATIKU. JANGAN HANCURKAN INI [LAGI]




Pernahkah hatimu berada dalam genggaman seseorang? Hangat. Lalu melodi hatimu mendendangkan lagu forever killing me inside, on a day just like this pee wee gaskins atau sun flower anthem night to remember? Aku pernah. Lalu pernahkah hatimu koyak di tangan seseorang yang menggenggamnya? Perih. Lalu melodi hatimu membisu? Aku pernah.

Pernahkah kau merasakan indah dalam luka, ketika retakan dinding hatimu membiarkan cahaya cintanya merasuki pelan? Lalu kau mempercayainya, lalu melodi hatimu berdentang lagi lalu semuanya terjadi begitu saja? Aku pernah. Lalu pernahkah kau merasakan eksaserbasi dari luka itu, ketika retakan dinding hatimu menjadi remuk, menjadi serpihan debu, saat dia yang memanggil melodi hatimu berbalik menghunus hatimu, meninggalkanmu pergi lalu kau tidak bisa mengatakan dengan baik agar dia kembali? Aku pernah.

Itulah kenapa aku menulis puisi, meski indahnya tidak melebihi sayap-sayap patah khalil gibran, meski puisi ini tidak bisa membunuh seperti arya dwipangga, meski puisi ini berkali-kali membuatmu mual [ya, jika kau membacanya, tapi tentu saja kau tidak akan pernah mengunjungi blogku lagi]. Itulah kenapa aku menulis puisi, karena aku tidak bisa berkata “ai shiteru” dengan baik. Mungkin saat mengatakan “ai shiteru” aku akan tersenyum konyol, dan kau akan berpikir aku hanya anak kecil yang ingin mempermainkan perasaan orang. Tidak. Aku tidak seperti itu. Aku juga tidak bisa berkata “kono mune ni” dengan baik. Mungkin saat mengatakan ”kono mune ni” aku akan menangis merengek seperti anak kecil, dan kau akan begitu menyesal telah menghabiskan waktu dengan orang sepertiku. Iya. Memang seperti itu. Lalu kau pun pergi dengannya. Tidak perlu waktu yang lama untuk melupakanku. Itulah kenapa aku menulis puisi. Karena aku tidak bisa menyatakan perasaanku yang begitu meluap, dengan baik. Karena kau tidak pernah mendengar ketulusan cintaku, dengan baik. Karena kita telah terpisah jarak dan waktu, dengan amat sangat teramat baik. Dengan puisi, setidaknya aku masih bisa mendengar teriakan lemah hatiku. Dari celah dinding hatiku yang retak.

Jika kau merasa semua puisi ini untukmu, apa yang akan kau lakukan?
Memintaku untuk mengakuinya? Menertawaiku? Menuduhku? memintaku untuk menghentikan ini? Jangan hentikan semua hal yang tidak ingin aku hentikan. Kau harus mengerti itu.

Jika kau merasa semua puisi ini untukmu, apa yang harus kulakukan?
Berharap kau akan kembali? Melepasnya? Merangkulku? Memintamu untuk memberikan cahaya lagi pada retakan dinding hatiku? Melodi hatiku membisu, tahu jika berteriak akan membuat rapuh merajai ragaku.

Apa kau benar-benar mengerti tentang puisiku?
Pergilah sekarang. Jika kau datang hanya untuk membunuh melodi hatiku [lagi]
Tetaplah di sini. Jika kau ingin mengganti hatiku yang rapuh, dengan hatimu yang tak sepenuhnya utuh untukku. Tetaplah di sini. Meski hatimu tak utuh untukku. Tetaplah di sini. Karena apa pun yang orang lain katakan tentang keburukanmu, hanya kaulah yang bisa memanggil melodi hatiku [lagi]
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

7 Response to "PUISIKU, MELODI HATIKU. JANGAN HANCURKAN INI [LAGI]"

  1. Sang Cerpenis bercerita says:
    4 Agustus 2010 22.00

    pernah dong..

  2. ciptanirmala says:
    4 Agustus 2010 23.07

    hehe... jadi malu...komen puisi nd prosa yang laen yax...thx buat komena...

  3. Enno says:
    5 Agustus 2010 23.08

    nice writing...

    :)

  4. Sukadi Brotoadmojo says:
    6 Agustus 2010 04.27

    "Tetaplah di sini. Jika kau ingin mengganti hatiku yang rapuh, dengan hatimu yang tak sepenuhnya utuh untukku. Tetaplah di sini. Meski hatimu tak utuh untukku. Tetaplah di sini. Karena apa pun yang orang lain katakan tentang keburukanmu, hanya kaulah yang bisa memanggil melodi hatiku [lagi]"

    so sweet... :)

  5. cHristiani says:
    6 Agustus 2010 05.06

    apiK, wah... sdh ku add, add balik yaw. thx buat puisi2 yg bikin saya terkagum2

  6. Dannie F Morran says:
    7 Agustus 2010 01.07

    spontaneous writing style, fantastic..!

  7. ciptanirmala says:
    15 Agustus 2010 04.29

    @eno: thx u...
    @sukadi: hontou ni arigatouuuu...
    @christiani: duh, makaci juga uda koen yax!
    @dannie: he... hontou ni arigatouuu...
    @all: liat puisi yang laen juga yax, thx dah komen...

Poskan Komentar

blog ini memiliki kutukan, jika anda tidak memberikan komentar setelah membaca blog ini, maka anda akan mengalami sembelit 7 turunan... makanya komen yax! *fufufu... tertawa licik*