HUJAN DAN SANG PEMBUNUH HATI




Aku terbangun dalam pagi yang terasa sama. Meskipun sekarang aku terjebak dalam musim yang berbeda. Mentari terbangun dengan malas, mungkin masih terayun dalam mimpi, terlihat dengan angkuhnya berselimutkan gumpalan awan. Jujur aku iri, kenapa gumpalan awan tercipta untuk menghangatkan mentari yang sudah hangat? Kenapa bukan untuk menghangatkan bongkahan hatiku yang masih dingin? Dingin. Hingga tak mampu lagi merasakan, luka apa lagi yang akan diingatnya untuk pagi yang sama. Menurutku.


Aku memejamkan mata beberapa kali lalu menyipitkan mata melihat sekelilingku. Aku telah terbangun dari mimpi rupanya, kakiku menyentuh lantai dengan perlahan, ya, aku telah terbangun dari mimpi. Aku tidak mendengar degupan jantungku, tapi sayang, aku masih bisa menghembuskan napas perlahan. Bodoh. Dengan luka ini kenapa aku masih bisa bernapas? Kenapa aku masih bisa hidup? Kapan takdir membawa aku mati bersama luka ini? Entahlah. Lalu aku memasang headset dan mendengarkan lagu killing me inside, tormented...

You know I was dying when you told me
That I'm not yours anymore
You know I was dying when you told me
Youre just playing and fooling around with me


Pagi ini menjadi jahanam. Mentari tampak lemah tertutup gumpalan awan tanpa garis silver. Tunggu. Atau apa aku yang terlalu lemah untuk percaya, masih ada cahaya di dunia ini? Aku menutup mata sejenak, berharap hatiku tertutup untuk menjawab pertanyaan, seberapa lemah aku. Aku pun berdiri, lekas pergi dari konflik batin ini. Aku tahu waktu tak akan berhenti ketika hujan turun, aku tahu waktu terus berjalan dengan biadab, dan aku tak boleh lengah, aku harus pergi, ada banyak hal yang harus kulakukan untuk melatih otakku, jangan sampai otak ini mati, seperti hatiku yang telah sekian lama lumpuh merapuh. Mati rasa.

Pulang cepat. Aku bisa tidur siang, dan hujan benar-benar membuatku terlelap. Hujan tidak selalu jahanam kan? Hujan menghubungkan langit dan bumi meski seharusnya mereka tak pernah menyatu. Kau pernah menerobos hujan dan berdiri basah kuyup di hadapanku. Hujan pernah membuktikan seberapa besar cintamu padaku kan? Dan hujan pernah menahanmu di tempatku, kau berkata ingin menghangatkanku lebih lama. Lalu setelah waktu itu berlalu, hujan di waktu ini mengingatkanku, kau bersama siapa saat hatiku remuk melapuk? Sampai kapan kau akan membiarkanku hidup dalam kematian hati? Apa yang kau lakukan sekarang, saat hujan turun dan tanpa aku? Oya, aku terhenyak, kita berada pada tempat yang jauh kan? Apakah di sana juga hujan? aku tidak tahu apa-apa tentangmu saat ini.

The rain falls on my windows
And the coldness runs through my soul
And the rain falls, oh the rain falls
I don’t want to be alone
I wish that I could photoshop on
Our bad memories
Because the flashbacks, oh the flashbacks
Won’t leave me alone
If you come back to me
I’ll be all that you need
Baby, come back to me
Let me make up for what happened in the past

Baby come back to me
I’ll be everything you need

Lagu baby come back to me dari utada hikaru, bersama dengan irama rintik hujan membawaku terlelap. Aku selalu berharap, aku ingin tertidur selamanya. Aku tak ingin terbangun bersama dengan hati yang kau hunus ini, aku tak ingin hidup bersama hati yang terkoyak kerinduan bodoh. Sungguh, aku tak ingin hidup, saat hujan kembali mengingatkanku padamu. Sang pembunuh hati.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "HUJAN DAN SANG PEMBUNUH HATI"

Poskan Komentar

blog ini memiliki kutukan, jika anda tidak memberikan komentar setelah membaca blog ini, maka anda akan mengalami sembelit 7 turunan... makanya komen yax! *fufufu... tertawa licik*