7 MENIT 39 DETIK




Kau tahu? Aku benar-benar menunggu hari ini tiba. Aku telah terlelap dengan biadab selama 4 jam. Tidur siang terbiadab yang pernah aku lakukan. Aku yakin, malam ini aku akan menjadi orang pertama, orang pertama yang akan mengucapkan... selamat ulang tahun untukmu. Oh, it’s my wish...

Gemericik hujan berbisik bersaing dengan degup jantungku, aku pun menatap ambigu langit-langit kamar, pemandangan yang tampak sama saat aku tertidur di sini, terbangun melihat langit-langit kamar lalu melihat kau tersenyum nakal di sampingku. Hari itu, hujan menahanmu di sini, di kamarku dan sampai saat ini... menahanmu di hatiku. I have no reason to forget you. You have no reason to forgive me. I don’t know how to say…


Aku kembali memencet 1 tombol di hpku, aku kembali melihat tulisan yang sama press unlock and then ok. Dan aku kembali kecewa. Tidak akan ada tulisan 1 new message dengan tertulisnya namamu di bawahnya. Tidak akan pernah ada lagi. Aku tahu sms atau telepon darimu tidak akan pernah ada di hpku lagi. Tapi hati untukmu masih ada di sini. Utuh.


Kalender tanpa gambar, yang begitu membosankan dengan jejeran angka-angka, kini tampak lebih bermakna. Angka enam kulingkari dengan spidol hijau, meski angka satu tercetak dengan warna merah dan itu menandakan tahun baru, aku merasa angka enam lebih spesial. Enam bulan lalu kau meneleponku, mengucapkan selamat ulang tahun, lalu malam ini aku akan meneleponmu, mengucapkan selamat ulang tahun. Sederhana, tapi sungguh, saat memikirkannya, jantungku yang terpenjara rusuk ini terasa mematahkan rusukku dalam degupnya. Ini hanya karena aku ingin meneleponmu. Atau hanya karena memikirkanmu? Entahlah, setahuku kau membuat jantungku menjadi pemberontak.


Aku pun bergegas mengambil hp dan melihat jam berapa sekarang. Tidak. Tidak seharusnya begini. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Kenapa harus hari ini? Kenapa harus hari ini aku menyadari bahwa sekarang adalah tanggal enam? Untuk apa aku tertidur dengan biadab tadi siang? Oh god damn shit! Aku pun terduduk berusaha menenangkan diri, tapi yang kutahu batinku meronta, aku bukan orang pertama yang akan mengucapkan selamat ulang tahun untukmu, aku hanyalah orang jahanam saat melupakan hari ini bukan tanggal lima. Tapi sekarang tanggal enam. Fucking days!


Dengan penuh kekecewaan aku segera meneleponmu. Dua kali deringan telepon, lalu.. Om swastyastu. Owh, sejak kapan kau jadi bertakwa seperti itu? Aku tertawa dalam hati. Tertawa karena kata yang kau ucapkan, atau tertawa senang karena aku bisa mendengar suaramu lagi? Entahlah, saat itu hatiku tertawa begitu tulus. Aku pun minta maaf karena terlambat mengucapkan selamat ulang tahun dengan alasan konyol dan suaraku yang masih merengek, masih manja, dan tidak akan pernah sedewasa yang kau inginkan. Tapi aku cuma bisa jadi diriku sendiri, tidak lebih. Saat itu aku mendengar suaramu di ujung telepon, ya aku mendengar suaramu, bukan lagi suara operator busuk yang mengatakan kau ada di luar jangkauan. Saat itu aku mendengar suaramu di ujung telepon, ya aku mendengar suaramu, bagaimana kau menjawab pertanyaan apa kabar dariku dengan ramah, berapa lama kau ujian, bagaimana kau menanyakan kabarku, bagaimana kau menceritakan susahnya ujian besok, dimana kau tinggal sekarang dan dimana aku tinggal sekarang. Masih, aku masih berada di tempat yang sama, tempat dimana hujan pernah menahanmu. Masih, aku masih berada di tempat yang sama, tempat dimana aku menggenggam hati yang masih mencintaimu. Utuh. Tuhan, kenapa saat ini kakiku masih menyentuh lantai? Harusnya sekarang aku sudah mati kan? Harusnya sekarang aku sudah berada di surga kan? Tuhan, aku masih mencintainya. Masih menunggu perasaannya kembali. Kembali mencintaiku, bukan kembali melukaiku.


7 menit 39 detik. Bukan waktu yang lama, tapi bisa mengobati luka lama. Yang aku tahu luka lama hanya bisa diobati olehmu, bukan olehnya. 7 menit 39 detik menyadarkanku, hatiku hanya bisa tersenyum tulus saat bersamamu, meski kau tidak lagi di sampingku, meski kau telah berada far far away nd blews my dreams away toh juga aku Cuma bisa berkata no way pada cowo laen. Itu Cuma karena aku menunggu hatimu. Seutuh dulu. Untukku.


*it’s okay dia ga mungkin ngunjungin ni blog, takut mual nd muntah darah, but i just wanna say...*

This diary special for my memorial love…
Dun wanna hurt u anymore
Please forgive me…
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

2 Response to "7 MENIT 39 DETIK"

  1. Anonim Says:
    2 Januari 2011 07.28

    yah,... jujur z aku pernah ngalamin hal yg ampir serupa,... btw gx se-devil km (telat 1 hari)
    itu bukan telat tapi kadaluarsa

  2. roca Says:
    2 Januari 2011 07.28

    yah,... jujur z aku pernah ngalamin hal yg ampir serupa,... btw gx se-devil km (telat 1 hari)
    itu bukan telat tapi kadaluarsa

Poskan Komentar

blog ini memiliki kutukan, jika anda tidak memberikan komentar setelah membaca blog ini, maka anda akan mengalami sembelit 7 turunan... makanya komen yax! *fufufu... tertawa licik*