Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

LANGKAH TANPA MASA


Detik ini aku ingin melangkah, jadi biarkan saja
jangan membuat garis untuk aku susuri
entah garis masa depan
atau...
garis masa lalu...

karena aku hanya ingin melangkah
bukan untuk  meninggalkan, mengejar, atau melukai
bukan untuk ditinggalkan, dilupakan, atau tidak diingat sama sekali
bukan untuk melangkah menuju masa depan
atau melangkah kembali ke masa lalu
karena aku kini mulai melangkah, ketika aku melihatmu,
melambaikan tanganmu...

tangan yang sempat aku lupakan
dan kini aku rindukan
sangat...

kamu ada di belakangku... di masa laluku tepatnya...
kini kamu menghadang di depanku... mungkinkah di masa depanku?

aku ingin berlari, dari masa lalu kita, tempat kamu meninggalkanku
tapi aku juga ingin berdiri saja di sini, mungkin di masa depan ini
sekali lagi, aku ingin merasakan tangan itu...

jadi biarkan aku melangkah secara acak
tanpa melihat kamu di masa lalu, di masa depan
karena itu semua akan membuatku terlihat konyol

aku akan melangkah, mencoba melangkah...
aku ingin merasakan tangan itu sekali lagi,

jadi jika kamu tidak ingin menggandeng tanganku,
jangan pernah sekali pun mencoba melambaikan tanganmu,
mengulurkan tanganmu,
dan menggandeng tanganku,
karena aku,
pasti akan selalu menyambut tanganmu...

mungkin terlihat konyol jika aku melangkah di jalan yang sama. Tapi tidak.
Sesuatu yang salah tidak untuk DITINGGALKAN,
tapi aku kembali melangkah, karena ada sesuatu yang ingin DIPERBAIKI...

[ciptanirmala, 
untuk kamu yang kini sedang membuatku sesak napas, atau tertawa, saat membaca tulisanmu,
tulisanmu yang ternyata masih mengingat kenangan kita]

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

TUAN TAMPAN


Seorang lelaki tampan, berseragam putih abu mendekatiku,
Tersenyum kaku, dengan gigi-gigi kecilnya
Kulitnya yang putih seputih hatinya
Perlahan, lelaki itu menawarkannya untukku
Apakah ini terlalu putih untukku?
Debaran hatiku berdegup
Sebuah jawaban,
Aku akan mencobanya...
 
Sang waktu membuka pintu demi pintu
Hingga kita sampai di depan pintu yang pilu
Pintu perpisahan.
Aku berhenti, aku tidak mau, tapi aku tidak berbicara
Entah kenapa kau melangkah dan berkata,
”aku menyayangimu, tapi kau tidak pernah memperhatikanku”
Aku masih menyayangimu,
Tapi aku tidak berbicara, tidak juga melangkah
Pintu itu pun terbuka, membawa langkah kakimu pergi
 
Tahun-tahun putih abu berlalu
Kita tidak pernah bertemu lagi
Hingga hari ini, layar di depanku
Menampilkan fotomu
Kau yang putih masih seputih dulu
Tuan tampan, kau masih tampan....
Setampan dulu....
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

JIKA AKU ADALAH PUISI



Jika aku adalah puisi
Aku adalah rintik hujan, penghubung langit dan bumi
Ingin menjadi rantai cinta, yang memusnahkan jarak

Jika aku adalah puisi
Aku adalah malam tanpa bintang, bentangan maha hampa
Tanpa cahaya cinta, lalu menjadi pemusnah hati

Jika aku adalah puisi
Aku adalah supernova yang membisu, musnah menjadi debu
Tanpa pernah kau dengar lirih rapuhku
Dalam jarak ratusan tahun cahaya
Mencipta ruang hampa di antara kita

Jika aku adalah puisi, apakah kau mengerti?
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

DEPERSONALISASI




Terjatuh, aku terjatuh lagi
Tapi orang melihat ini biasa
Goyah, aku goyah lagi
Seolah ragaku serupa onggokan debu
Gemulai terhembus angin

Aku tersandung lagi, sempat kehilangan waktu
Tiba2 aku melihat ragaku di situ, rapuhan jiwaku di sini
Aku melihat ragaku terbaring letih
Kemilau debu banjiri lusuh ragaku
Rapuhan jiwaku di sini berteriak lemah
Tapi ragaku di situ terdiam bodoh
Orang pun berlalu lalang
Aku terpisah dari ragaku

Tubuhku diguncang keras meski lemas
Telingaku terusik bisikan keras
Aku terbangun, orang-orang di sekelilingku panik
Kenapa aku tak sadar berbaring di sini?
Perlahan aku terbangun lemas
Rapuhan jiwaku sedang berusaha menyatu

Malam membekukan kabut hatiku
Akhirnya kututup telepon ini
Setelah berulangkali operator busuk itu
Mengatakan kau di luar jangkauan, jarak.
Aku sedang terkalahkan oleh jarak
Lagi, aku goyah, terjatuh, merapuh
Lagi, rapuhan jiwaku di sini
Seonggok ragaku di situ
Tapi tidak, aku tidak akan berteriak lemah lagi
Biar saja ragaku di situ
Aku tak lagi ingin menyatu dengan raga busuk itu
Dengan seonggok raga yang selalu mencintaimu
Tapi tidak pernah kau inginkan ada...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

ANAK KECIL TIDAK AKAN DIAM




“The child will not be quiet
Take it by the leg nd hit it against the wall
The child will not be quiet…”

Berawal dari lunaknya zona pelucida
Oleh seekor kecebong mikro yang tangguh
Lemah, tergubah insan tanpa apa-apa
Hanya makhluk serupa alien
Tampak kokoh terlukis dalam ultrasonografi
Kedua orang dewasa itu berkata entah
Takdir mengehembuskan angin pasrah

Kini anak itu tersenyum, terkikik centil
Tanpa kata, tanpa harusnya ragu
Anak itu mencintai kedua orang dewasa itu
Tanpa kata, tanpa harusnya ragu
Hati anak itu bersenandung
”aku tidak tahu apa-apa, tapi aku menyayangi kalian”

Anak itu kini bisa berkata
Bukan hanya sepatah dua patah
Lidahnya berucap menari lincah
Tapi terhenti. Bukan karena ingin terhenti.
Hanya saja, suara kedua orang dewasa itu lebih nyaring
Lebih tepatnya, saling membentak, membentak dan membentak
Tanpa tahu, anak itu di situ
Berdiri gagu, mendengar celoteh kaku
Hatinya berkata lagi
”aku tidak tahu apa-apa, aku menyayangi kalian tapi apa kalian saling menyayangi?”

Anak itu kembali pulang ke rumah
Mata orang dewasa itu mendelik
Keningnya berkerut, alisnya bertaut
Mulutnya berucap sumpah serapah
Tampak ucapan bisu oleh anak itu
Lebih tepatnya menulikan telinga, membisukan bibir
Tertajamkan hati...
Anak itu berlalu saja tanpa menyahut
Hanya saja hatinya koyak, berteriak lemah...
”aku tidak tahu apa-apa, aku menyayangi kalian, hanya saja hatiku sedikit koyak”

Malam memeluk senja, memulangkan kicauan burung gereja
Sunyi kehilangan alibi, tangis terlepas dari rantai diam
Melodi malam kelam beralun
Tangisan anak kecil, bentakan orang dewasa
Lalu pukulan, pukulan yang menistakan tembok putih
Dari tetesan-tetesan darah seorang anak
Hati yang koyak menyentak benak...
”sungguh, aku tidak tahu apa-apa, yang aku tahu aku hanya menyayangi kalian,
Sungguh aku tidak tahu untuk apa aku lahir, yang aku tahu, aku lahir karena kalian saling menyayangi...”
Apakah orang dewasa itu mendengarnya?
Ketika anak kecil itu tidak akan diam.

*ketika dua orang dewasa saling membentak di depan anak kecil
Anak kecil itu akan terdiam
Jangan berpikir anak kecil itu dungu
Anak kecil itu hanya sedang merekam semuanya dengan jernih
Dan berbicara dengan kata hatinya
The child will not be quiet…*
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

SATU-SATUNYA LELAKI




Lelaki tanpa kemeja, kaos dengan warna polos
Tatapannya sinis menggoda
Terduduk menatapku
Saat itu dia bukan satu-satunya lelaki yang menatapku
Bukan pula satu-satunya lelaki yang menyebalkan
Aku pun menyingkir dari tempat itu
Karena saat itu, dia bukan satu-satunya lelaki

Lelaki itu menggodaku, mengejekku. Menyebalkan.
Lelaki itu membuatku merengek. Sial, ejekanku kalah.
Aku pun mengenal lelaki itu
Lelaki yang menyebalkan dan membuatku penasaran
Apakah dia satu-satunya lelaki?

Lelaki itu terduduk di sampingku
Lalu aku bersandar di bahunya
Saling berpegangan tangan erat
Lalu mencoba bertukar manisnya kecupan
Semua terjadi begitu saja
Karena dia, satu-satunya lelaki yang aku pacari

Lelaki itu berdiri dengan baju yang basah
Aroma tak enak pun melekat di bajuku
Tak apa, karena di musim hujan itu
Dia, satu-satunya lelaki yang benar-benar ingin bertemu denganku
Meski hujan dan jarak menjadi tembok pemisah
Dia, satu-satunya lelakiku

Lelaki itu tertawa lepas, mengalahkan bising hujan
Aku masih ingat bagaimana caranya tertawa
Deretan giginya yang sempurna, satu alisnya terangkat
Hanya karena menggodaku
Aku tidak akan menyangka
Dia, satu-satunya lelaki, yang suatu saat akan kubunuh tawanya

Lelaki itu memelas di telepon
Aku tak kalah memelas ingin berpisah
Kadang, cinta yang terlalu sempurna membuatku jenuh
Jenuh untuk terikat, tidak jenuh untuk tetap mencintai
Satu-satunya lelaki itu berkata..
”sebenarnya aku adalah bagian dari kamu, tapi kamu ga pernah menyadari itu”
Aku mengelak, aku tak sempurna untuk menjadi bagian darinya
Kita pun berpisah berulang kali
Saat itu, dia...
Satu-satunya lelaki yang pernah kubuat menangis

Lelaki itu memutar cepat sang waktu
Dan aku, bukan lagi ”flower in the desert” untuknya
Hatiku mengira semua akan kembali lagi, meski berpisah berulang kali
Tapi tidak, berulang kali dia melupakanku
Satu-satunya lelakiku, kemana perginya?

Raga lelaki itu bersembunyi dalam kegelapan
Menyeret serta bayangannya agar tak tertangkap olehku
Tanpa tawa lepasnya, tanpa tatapannya untukku
Dengan hatinya yang kucabik, dengan jiwanya yang kuhunus
Dia, satu-satunya lelaki yang pernah benar-benar kulukai
Dia, satu-satunya lelaki yang benar-benar aku cintai
Satu-satunya lelaki, yang kunanti sampai kapan pun...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

SUICIDE PHENOMENA [killing me inside] - SAAT AKU MATI [my poetry]




Take my heart and carry me now
And don't let me out to get a terrible day

Rampas hatiku sekarang
Ketika hatiku sembarang, otakku menghilang
Seret ragaku sekarang
Sebelum kau menganggapku tak ada
Lalu aku benar-benar tiada

I can't feel my heart and the blood that you're sharing me is killing me
And I just want to wake up and say
What is like to be loved to be vexed to be killed to be dying?
That the feelings here, inside my heart

Tak lagi kudengar bising melodi hatiku
Masihkah ini kusebut cinta?
Ketika kau menganggap ini berakhir
Lalu aku tak tahu bagaimana cara mengakhirinya
Mungkin dengan ”cara ini”

I want u back to me I need u now
I want u back to me I need u now

Aku tidak mau tahu kau dengan siapa
Yang aku tahu, harusnya kau untukKU
Aku membutuhkanmu sekarang
Di sini, di sampingKU, memelukKU, erat...
Tapi tidak, nyata kau memelukNYA
Maya di mataku...
Ingin ku hancurkan cermin kenyataan
Lalu menerobos ke dunia lain
Mungkin dengan ”cara ini”

I cut my vain, I'm waiting in pain
And with the blood shattered all over the blade
I got to say, the way that you're counting me its scaring me
But baby I just came here to say
What is like to be loved to be vexed to be killed to be dying?
That the feelings here, inside my heart

Kulakukan “cara ini”
Membiarkan hatiku menjajah otakku
Lalu ragaku tanpa otak, tanpa logika
Merelakan ragaku meniada dari matamu
Tanpa logika, menganggap ”cara ini” indah
Mengiris-iris nistanya vena
Melihat darah yang menetes
Perih... tapi tidak seperih hari itu
Hari ketika punggungmu mengecil
Tanpa sedikit pun menoleh ke arahku
Apa kau tidak tahu?
Hatiku masih di sini untukmu
Hanya saja sudah terkoyak terlebih dulu
Ketika kau berkata, seharusnya aku tak ada

Distressed
Out between you bit me
No more danger makes me feel
Just like dying now
Cut out my finger and pull the trigger
Right on my disaster

Berakhir.
Aku tak lagi merasa perih
Aku melihat ragaKU di situ
Dan jiwaku di sini
Depersonalisasi.
Jiwaku masih menunggumu
Untuk merangkul ragaku yang bersimbah darah
Dimana kau?
Bahkan sebelum melihatmu
Jiwaku telah terbakar, menghilang
berdentang tanya...
Saat aku mati apa kau tahu cintaku takkan mati?
Saat aku bersimbah darah apa kau mau menghapus darahku lalu meneteskan air matamu?
Hening...

*kyaaaaa!!! Hontou ni sugoii!!! Ni gara2 ma suka banget sama musik nd lirik suicide phenomena kilms, tapi yang bahasa indonesia asli puisi ma loh! Bukan terjemahan, hehehe...*
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

JEBAK AKU, SEKALI LAGI, KUMOHON...




Jebak aku, lihat busuk hatiku
Jebak aku, tunjuk langkahku
Tak berirama, beranjak retak
Kumohon, jebak aku...

Jebak aku, jangan mencoba menebak
Bingo! Aku masih mencintaimu
Jebak aku, aku tahu aku telah jinak
Ya, hanya dengan tatapan teduhmu
Kumohon, sekali lagi, jebak aku...

Katakan kau mencintaiku
Meski ada wanita penyihir itu di sampingmu
Katakan kau masih mengingatku
Meski kau adalah penipu tanpa tanding
Katakan, katakan, katakan, kumohon...
Kau tahu? Hatiku membusuk menunggumu
Jebak aku, sekali lagi, kumohon...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

TELEPON AKU, SEPERTI WAKTU ITU *puisi terbodoh*




*membuat puisi dengan penuh kehilapan, bersama dengan irama brainless disco night to remember, aku benar2 bodoh, tidak punya otak, saat membuat puisi terbodoh ini...*

Telepon aku sekarang, sama seperti waktu itu...
Ketika tumpukan reference itu menggunung
Mengeluarkan wedus gembel dari kepalaku
Lalu tanpa diduga, kau meneleponku
Berkali-kali mengingatkanku pada masa itu
Saat kau dengan bodohnya mencintaiku
Saat aku dengan bodohnya melepaskanmu

Telepon aku sekarang, sama seperti waktu itu
Ketika kau membuatku tertawa tanpa henti
Tentang jidat lebar, hidung jambu, konyolnya backstreet
Tentang puisi, lagu, atau puisiku yang menjadi lagumu
Lalu menutup telepon jam setengah tiga pagi
Dan aku tidak bisa tidur sampai pagi
Berpikir, kenapa hari itu begitu konyol?
Kenapa hari itu kau meneleponku?

Telepon aku sekarang, sama seperti waktu itu
Ketika kau mengatakan aku yang terbaik
Dan berbohong
Ketika aku mengatakan mencintaimu lagi
Dan begitu bodoh
Tak peduli. Telepon aku sekarang. Aku benar-benar tak peduli.
Kumohon, telepon aku sekarang...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

KEPADA SEORANG GADIS, DENGAN SEUTUH KEBENCIAN




*kau tidak akan memotretku dengan payung transparan itu, tapi kau memilih dia, yang nyata, telah memiliki kekasih...lalu mempermainkanmu*

Seorang gadis riuh
Merasa manis, binarnya utuh, berdiri penuh senyum
Memiliki seorang kekasih
Tapi entah memiliki iba

Seorang gadis rapuh
Bersimpuh lumpuh, mengharamkan jenuh
Mengais keabadian
Meski abadi terpunahkan waktu

Seorang gadis riuh
Mengharamkan satu, haus akan dua, tiga, empat dan seterusnya...
Menggenggam satu hati, erat
Lalu berburu hati kedua, ketiga, keempat dan seterusnya...
Raga tanpa cela, hati yang nista

Seorang gadis rapuh
Percaya hanya satu
Menunggu, menunggu, menunggu, meski takkan menggenggam satu
Melindungi kenangan dari hunusan waktu
Sebongkah hati yang rapuh, sebongkah hati yang suci

Lelaki fotografer itu memilih gadis riuh
Untuk memegang payung transparan, indah
Meski tahu gadis riuh telah memiliki kekasih
Bukan memilih gadis rapuh, bodoh
Meski tahu gadis rapuh ini selalu menantinya

Titik-titik hujan menggila
Gadis riuh terlindungi payung transparan
Gadis rapuh tak terlindungi apa pun
Lalu, menyalakan api amarah
Mencoba menghangatkan hatinya di tengah hujan
Atau malah membakar seutuh hatinya?

Aku takkan lagi menyebutnya gadis riuh
Aku takkan lagi menyebutnya gadis rapuh
Dia itu wanita jahanam
Dia itu aku, ya aku...

Aku membenci makhluk berkromosom xx yang satu itu
Yang mengingkari satu
Mengkhianati kekasihnya
Lalu, merebutmu...
Dari penantianku

Aku membencinya! Membencinya! Membencinya!
Dengan seutuh hatiku!
Dan rapuhan hati, utuh penantian ini...
Aku musnahkan dengan api...
Api cemburu...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

SAYAP-SAYAP PATAH




Puisi khalil gibran yang bener-bener ma suka *kalo ga baca di warnet pasti uda pengen nangis, hix...* Puisi ini menggantikan sebongkah perasaanku, dengan seutuh blackhole yang menghisap melodi hatiku… aku tidak bisa lagi melihat hatiku mengepakkan sayapnya, terbang mencarimu atau mendendangkan melodi harap... apakah sayap-sayap ini telah patah? Puisi ini menjawab entah...

Wahai Langit
Tanyakan pada-Nya
Mengapa dia menciptakan sekeping hati ini..
Begitu rapuh dan mudah terluka..
Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta
Begitu kuat dan kokoh
Saat berselimut cinta dan asa..

Mengapa dia menciptakan rasa sayang dan rindu
Didalam hati ini..
Mengisi kekosongan di dalamnya
Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih
Menimbulkan segudang tanya
Menghimpun berjuta asa
Memberikan semangat..
juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira

Mengapa dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa
Menghimpit bayangan
Menyesakkan dada..
Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa…


Wahai ilalang…
Pernah kan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini
Mengapa kau hanya diam
Katakan padaku
Sebuah kata yang bisa meredam gejolak hati ini..
Sesuatu yang dibutuhkan raga ini..
Sebagai pengobat tuk rasa sakit yang tak terkendali
Desiran angin membuat berisik dirimu
Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku
Aku tak tahu apa maksudmu
Hanya menduga..
Bisikanmu mengatakan ada seseorang di balik bukit sana
Menunggumu dengan setia..
Menghargai apa arti cinta…
Hati yang terjatuh dan terluka
Merobek malam menoreh seribu duka
Kukepakkan sayap-sayap patahku
Mengikuti hembusan angin yang berlalu
Menancapkan rindu….
Disudut hati yang beku…
Dia retak, hancur bagai serpihan cermin
Berserakan ….
Sebelum hilang di terpa angin…

Sambil terduduk lemah….
Ku coba kembali mengais sisa hati
Bercampur baur dengan debu
Ingin ku rengkuh…
Ku gapai kepingan di sudut hati…
Hanya bayangan yang ku dapat….
Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya

Tak sanggup ku kepakkan kembali sayap ini
Ia telah patah..
Tertusuk duri-duri yang tajam….
Hanya bisa meratap….
Meringis..
Mencoba menggapai sebuah pegangan..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

FIRST LOVE SI PUTIH ABU




Seberapa besar sih jantungku?
Katanya Cuma sekepalan tanganku
Coba aku lihat, benar-benar kecil khan?
Tapi kenapa waktu itu
Saat melihat kamu berseragam putih abu
Pertama kalinya,
Degup jantungku membentur rusukku
Berontak sangat, ingin meloncat keluar dari ragaku
Lalu menyerahkan sebongkah hati ini untukmu
Hebat khan?
Padahal jantungku Cuma sekepalan tanganku

Lagu apa sih ini?
Summer song-nya yui, di tengah musim panas yang hepi ini,
feeling fine-nya laruku, yang berlomba dengan degup jantungku,
atau welcoming the sophomore-nya pee-wee gaskins?
Entahlah…
Semua lagu itu bercampur jadi satu, anehnya,
Aku mendengar dari ragaku sendiri, saat kau memandangku dalam
Detak jantung kacau yang begitu aritmia
Tapi terdengar indah
Lalu aku menyebutnya, melodi hati...

Tanpa kusangka, di tengah langit musim panas
Kau mengatakan cinta! Ya, mengatakan cinta!
Jika ragaku terbuat dari lilin
Di musim panas itu aku pasti meleleh detik itu juga
Untungnya, ragaku Cuma kepanasan
Ah, engga juga
Saat melihatmu, ada hembusan kesejukan
Dari sorot matamu yang teduh, begitu teduh...

Eh, kita malah pacaran
Kamu memboncengku, tapi aku tidak memelukmu
Aku takut,
Takut tidak bisa melepasmu
Jadi aku hanya bisa memandang punggungmu
Punggung seorang cowok, seperti di komik-komik
Meski tanganku agak tremor, aku bukan pengidap parkinson
Aku ga minum anti parkinson levodopa,
tapi kenapa aku berhalusinasi?
Please, stop! Kamu ga ngebawa aku pulang ke rumah!
Kamu ngebawa aku ke surga!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

BUAT APA MENCINTAIKU?



*this picture from desy@rt*

Kau menawarkan sebongkah hatimu begitu murah
Terancam mengobralnya untukku
Katanya kau tahu lukaku, perihku dan seutuh hatiku
Sok tahu!
Bahkan kau mengira aku masih punya seutuh hati
Lihat! Aku tidak lagi punya hati! Serpihan pun tidak!

Kau bersabda angkuh akan menungguku
Memutar hunusan sang waktu yang membuat hatiku beku
Bodoh!
Bukan, bukan sang waktu yang jadi pelaku!
Tapi aku! Aku yang menghunus hatiku sendiri!

Buat apa mencintaiku? Mengobral hatimu
Jika nanti kau akan menginjak hatiku tanpa harga
Buat apa mencintaiku? Menungguku
Jika nanti kau akan membuatku menanti hatimu yang mati
Buat apa mencintaiku? Mencintaiku
Saat kau hanya berpura-pura mencintaiku

Berhenti di situ! Enyah! Enyah dari ragaku yang lapuk
Buat apa mencintaiku?
Aku tidak lagi punya hati
Untuk mencintai lalu disakiti...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

KEBOHONGAN UNTUKKU




Kau selalu berkata mengingat segalanya
Kedewasaanku, kelincahanku, keluguanku
Kau selalu memujiku
Sebodoh apa pun
Segala yang ku buat

Kau akan menunggu di depan kamarku
Meski aku menguncinya rapat-rapat
Karena untuk kesekian kalinya kau telat
Lalu kau akan menyuapiku pelan
Dengan banyak daging, sedikit nasi
Kau selalu tahu mauku
Kau selalu membuatku tak bisa menolak
Lalu aku pun memakannya
Sekali pun aku tidak lapar

Aku bermimpi kita menuruni tangga bersama
Berkilau seperti dalam film barbie
Di depan kita ada tangga
Aku bercanda, aku ingin digendong
Kau menyanggupinya serius
Kau menggendongku menuruni tangga
Aku melihat hatiku berkilau
Lebih berkilau daripada gaun barbie

Aku selalu bertanya
Kenapa kau kembali mendekatiku
Setelah bertahun-tahun bersamanya
Setelah bertahun-tahun kita tidak pernah bertemu
Kenapa?
Lalu kau menjawab ini takdir
Takdir... karena kau terlahir
Diciptakan untukku
Dan aku terlahir
Diciptakan untukmu
Lalu matamu berkilau
Kau akan mengejar takdir itu untukku
Lalu mataku berkilau

Ketika waktu itu terganti waktu ini
Saat kau kembali bersamanya
Dan aku kembali sendiri
Bisakah kau menjawab pertanyaanku
Kenapa kau tidak tampak sedikit pun
Sebagai seorang pembohong?
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

JANJI UNTUKKU




Saat itu aku selalu tersenyum
Kau menggenggam erat tanganku
Matamu berbinar-binar
Tak sedikit pun redup
Mendongengkan janji tanpa henti untukku

Kau akan belajar bermain keyboard
Berjanji mengajariku bermain keyboard
Kau mendendangkan sesuatu
Berjanji menjadikan puisiku sebuah lagu
Aku merengek ingin bisa bermain gitar
Lalu kau berjanji akan mengajariku
Aku menyukai kembang api
Lalu kau berjanji tahun baru menemaniku
Aku tidak ingin putus seperti dulu
Lalu kau berjanji kita tidak akan putus lagi

Apa kau mengingatnya?
Sayangnya...
kau tidak pernah berjanji
Untuk menepati semua janjimu...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

AKU DI SITU




Aku berada di depan kaca-kaca
Menyentuhnya, tapi tanganku terluka
Kaca yang rapuh
Bahkan untuk melukis aku

Kaca-kaca itu tak mati
Sekuat rapuhnya melukis aku
Bayangan hampa
Tanpa senyum tulus
Keningnya berkerut

Aku berada di depan kaca-kaca
Menoleh ke belakang
Tak lekang serupa hilang
Kaca-kaca itu melukis aku
Bayangan dengan sayap yang menguncup
Berharap palsu

Apa ini?
Aku di situ, selemah itu
Itukah aku di sini?
Dimana mimipiku?
Dimana langkah hebatku?
Dimana senyum kemenanganku?
Aku di situ
Bayangan sepotong-sepotong kaca rapuh
Terdiam tanpa hati
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

LABIRIN




Aku berlari-lari sekencang-kencangnya
Meski kakiku tertuduh lemah
Aku bernapas secepat-cepatnya
Meski otot asesoriku ikut campur
Aku tak peduli selemah apa aku
Aku hanya ingin keluar dari jalan putih
Putih sempurna yang menyilaukan ini

Sampai lututku menyangga ragaku
Sampai bibirku menyerap udara dengan biadab
Aku terlihat bodoh
Sama sekali tidak menemukan pintu keluar
Masih dalam jalan putih yang sama
Dimana aku?
Batinku meronta,
Keluarkan aku!

Terkurung dalam putih yang menyilaukan
Aku tidak bisa menemukan waktuku
Terjebak dalam tempat yang sama, hati yang sama
AKU! Apa yang kau lakukan terhadap aku?
AKU merampas waktuku untuk berlari
Agar tetap dalam masa lalu
AKU mencabik masaku, waktuku,
Dan hatiku yang terbuka polos

Aku rebah sembahkan pasrah
AKU melindungi aku yang terluka
Aku harus menurut, aku akan tersungkur di sini
AKU memberi tempat indah untukku
Labirin hati.
Labirin masa lalu.
AKU dan aku akan bersama di sini.
Selamanya.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

PENUNGGU BUNTU




Terseok-seok berjalan gemulai
Sinar mata hampa menghamba
Tangan mengepal tak sempurna
Serpihan-serpihan hati berjatuhan
Tanpa kilau.

Sekujur raga hina
Pemain masa lalu
Kalah telak
Oleh pusaran sang waktu
Yang tak maw kalah
Melaju sekehendaknya.

Terseok, terjatuh, terluka
Kuat. Terbangun oleh mimpi merana merajalela
Tetap menjadi pemain masa lalu
Tetap meniti pada jalan yang sama
Meski akhir jalan terlihat dari sini
Buntu.

Akulah pemain masa lalu
Aku akan terus berjalan
Tidak pada masaku, menukik waktu
Aku tahu mati tapi lebih tahu terlahir
Meski pemain masa lalu mati
Aku akan terbangun menjadi
Sang penunggu buntu.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

OCEHAN PARASIT




Kali ini aku terdiam, bahkan dulu aku terdiam
Mungkin selamanya aku terdiam
Sesungguhnya aku muak!
Muak melihat panorama ini!

Kali ini ’itu’ mengoceh, bahkan dulu juga mengoceh
Mungkin selamanya ’itu’ mengoceh
Sesungguhnya ’itu’ munafik
Raga hina pendamba sempurna

’itu’ menyedot tatapanku
’itu’ merenggut sebelah napasku
’itu’ tetap mengoceh
’itu’ mengoyak hatiku!
Mencabik jantungku!
Terseok ragaku hidup

’itu’ mengoceh lagi
Tentang ragaku yang bersimbah salah
Tentang patuhku yang ditentang hilang
Tentang dongeng ’itu’ yang mahasempurna
Tentang fuckin tale ’itu’ yang abadi

Sesungguhnya ’itu’ parasit
Meranggut simbah darah ragaku
Aku membencinya
Sungguh. Aku membenci kesempurnaan.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

MEMBUANG HATI




Berdiri tenang di depanku
Seonggok raga penuh nyawa
Degup jantungnya berkali-kali lipat
Aritmia penuh nyawa

Tertunduk tersenyum wajahku
Seonggok raga pelupa hati
Degup jantung melemah lepas
Tanpa hati nyawa menggantung

Terbawa desir angin suaranya
Elok yang lapuk
Sungguh sayang yang kunantikan
Tapi bukan dari raga ini

Tertantang bertukar hati
Tersuguh hati dari raga itu
Masih ku tertunduk tersenyum
Ku mendongak, mari bertukar hati

Ku rogoh hatiku sekuat lemah jariku
Terdiam. Hilang. Lupa.
Terhenyak. Dimana? Dimana hatiku?
Terlupa. Selama ini aku berjalan tanpa hati

Aku tak tahu apa guna hati
Saat aku tidak bisa menyakiti
Dan enggan untuk menyakiti
Lalu kubuang hatiku
Di tempat dimana aku akan melupakannya
Aku membuangnya entah dimana
Entah dimana...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS