Tampilkan postingan dengan label PROSA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROSA. Tampilkan semua postingan

CINTA SEJATI ADALAH PETARUNG WAKTU


 
Melepasmu, adalah sayap tanpa kepak
Mencintaimu, membuatku ingin terus mengepakkan sayapku
Menunggumu, akan kulakukan, meski sayapku rapuh terhunus waktu
 
Ini bukan cerita semusim, karena sang waktu dengan bengisnya begitu cepat 
membiarkan langit mengganti selimutnya. Entah berselimutkan awan kelabu 
atau terik sinar mentari. Terkadang itu terasa sama saja, karena ketika sang 
waktu tidak bisa menghentikan jatuhnya pasir waktu, dia tidak pernah kembali 
di sisiku. Sang waktu, bisakah kau menjatuhkan pasir waktu penuh keajaiban 
untukku? karena entah sudah berapa musim yang aku lalui untuk menunggunya. 
Entah sudah berapa musim...
 
Aku melihat kalender dengan teliti. Satu minggu lagi hari valentine, dua bulan 
lagi aku akan co ass, aku tidak tahu kapan, dia akan pergi lagi dari pulau ini. 
Dan sekarang, aku tahu aku harus mengusahakan segala hal untuk menemuinya. 
Aku pun mengirimkan sms untuknya, dan apa kau tahu? Dia akan meluangkan 
waktunya untukku. Sehari sebelum valentine. Sang waktu, apakah pasir waktu 
telah mengijinkan ragaku untuk menumbuhkan sepasang sayap di punggungku?
 
Entah berapa kali aku memimpikan datangnya hari ini. Hari dimana aku bisa 
memberikan sekotak coklat untuk orang yang tepat. Hari dimana aku bisa 
bertemu dengan orang yang entah berapa musim tidak pernah aku lihat. 
Aku pun berkali-kali menatap wajahku di depan cermin. Apakah ada hal yang 
akan membuatnya memalingkan muka? Apakah ada hal yang membuatnya 
berhenti bicara? Apakah aku bisa berbicara sewajarnya saja? Ketika 
memikirkannya saja sudah membuat degup jantungku seakan mematahkan 
rusukku. 
 
Karena terlalu lama memandang wajahku di cermin, aku pun tidak menyadari 
jika ini sudah jam setengah tujuh! Hapeku pun menunjukkan ada satu sms 
yang aku terima. Duh, jangan2 dia marah dan akan membatalkan pertemuan 
ini! Dengan pasrah aku membuka sms itu...
Dimana? Aku udah nyampe.
 
Siaaal!!! Padahal aku yang mengajaknya bertemu tapi malah aku yang terlambat. 
Aku pun dengan tergesa-gesa mempersiapkan segalanya. Ketika tiba di tempat 
makan itu aku pun meliarkan pandanganku kemana-mana, tapi ternyata dia tidak 
ada. Aku sempat berpikir dia akan marah lalu memilih untuk pulang saja. Aku 
pun melangkah ke dalam dan ternyata di sudut tempat makan itu aku melihatnya! 
Ya! Meski dia membelakangiku tapi aku tetap mengenalinya! Karena punggung 
itu adalah punggung yang pernah melindungiku dari hantaman hujan. Dan 
punggung itu, adalah tempat tumbuhnya sepasang sayap yang pernah membawaku 
terbang menghantam langit dan mendekap waktu dalam bingkai beku rindu. Aku 
tidak pernah sedikit pun melupakannya.
 
”sori, uda lama ya?” aku menyapanya dengan agak grogi
”baru 5 menit kok” suaranya terdengar grogi juga
 
Aku pun duduk di depannya dan mengatur irama napasku, meski irama jantungku 
tidak bisa diatur sedikit pun. Setelah sekian lama tidak bertemu, entah kenapa 
aku dan dia sama-sama terlihat canggung, aku pun berusaha membuka percakapan, 
entah menanyakan bagaimana kabarnya atau pekerjaanya. Awalnya aku sempat 
berpikir ini akan menjadi percakapan satu arah, aku yang banyak bertanya tapi 
dia hanya akan menjawab iya atau tidak. Tapi, dugaanku salah. Dia banyak 
bertanya tentang kabarku, dia banyak bercerita tentang pekerjaanya, tugas 
akhirnya dulu, tentang banyak hal. Aku tidak menyangka waktu yang kami habiskan 
di situ cukup lama. Akhirnya sang waktu mengatur butir-butir pasir waktu itu agar 
berjatuhan lebih lambat, agar aku lebih lama merasakan keajaiban ini. Sang waktu, 
bolehkah aku mengabadikan hari ini, dalam bingkai beku keabadian?
 
Setelah melihat aku selesai makan dalam waktu yang cukup lama, akhirnya dia 
memutuskan untuk segera pulang karena sudah malam. Aku pun menyerahkan 
sekotak coklat spesial itu untuknya. Syukurnya dia menerimanya. Dan Tanpa pernah 
kuduga sebelumnya, dia langsung pergi ke kasir dan menraktirku, padahal dari 
ceritanya dia belum dapat gaji. Aku sudah menolak berkali-kali tapi akhirnya aku 
kalah, dan aku pun berjanji akan menraktirnya nanti, jika aku sudah yudisium. 
Sesampainya di parkiran, aku baru menyadari kalau aku memarkir motorku di 
sampingnya, hehehe. Di luar dugaan lagi, ternyata dia menungguku sampai 
motorku benar-benar bisa keluar dari parkiran dan membayar uang parkirku juga. 
Duh, sepertinya keajaiban hari ini terlalu berlebihan. Apakah ini mimpi? Jika ini 
kenyataan, hunuslah aku di sini sang waktu, aku sudah siap mati bahagia di sini.
 
Sang waktu selalu menjadi saksi bisu bahwa aku pernah menjadi seseorang 
yang bertahta agung di hatinya, tapi aku juga pernah menjadi seseorang 
yang dianggap tidak ada sama sekali. Apa aku menyerah begitu saja? Tidak. 
Aku selalu menunggunya dengan penuh keyakinan. Aku yakin, aku tidak pernah 
salah menunggu seseorang. Dan itu adalah dia.
 
Sang waktu, jika kau harus menjatuhkan butir-butir pasir itu dengan cepat, 
lakukan saja. Tapi jangan pernah berharap jika perasaan ini bisa kau hunus 
begitu saja. Karena perasaanku, adalah sepasang kepakan sayap petarung waktu.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

SEUTAS BENANG MERAH





Jaga dirimu baik-baik. Aku akan pergi jauh. Jagalah seutas benang merah yang 
aku berikan. Genggam dengan erat. Karena satu diantara kita tidak akan 
pernah membiarkan benang merah ini terputus. Sejauh apa pun jarak. 
 
Itu katamu. Penipu.
 
Kau tahu kenapa cinta itu buta? Karena cinta tidak pernah mengenal jarak,
 ruang dan waktu. Kau tahu kenapa aku membiarkanmu pergi jauh tapi tidak 
membiarkan cinta ini terhenti begitu saja? Karena aku percaya cinta itu buta. 
 
Itu keyakinanku. Pemimpi.
 
Saat itu kau memberikan seutas benang merah. Kau mengikat salah satu 
ujungnya dengan lembut di jari manisku, lalu mengikat ujung yang lain 
di jari manismu. Benang merah yang tipis ini adalah penghubung, 
perlambang cinta diantara kita. ketika ragamu terpisah jauh dariku, 
tapi tidak hati kita.
 
Hari itu pun tiba, hari ketika pesawat mengantarkanmu menuju pulau 
yang berbeda, waktu yang berbeda dan jarak. Ya, jarak. Tapi apakah 
seutas benang merah ini lunglai? Tidak. Aku merasakan suatu tarikan.
 Karena kita sama-sama menggenggamnya erat. 
 
Ada saat-saat dimana aku merasakan hentakan seutas benang merah ini, 
ketika kau menjadi pecandu rindu, sementara aku terkadang ingin 
melepaskannya, karena aku adalah perampas bebas. Perampas bebas, 
tapi aku memberikan seutuh hatiku, percayalah...
 
Ada saat dimana aku yang menjadi pecandu rindu. Aku akan 
menghentakkan seutas benang merah itu begitu keras. Bahkan 
hingga kau tersentak berontak, berteriak bahwa aku berubah terlalu 
jauh, tidak sedewasa yang kau inginkan. Aku tak kalah berteriak. 
Ini karena aku terlalu merindukanmu! Semakin kuat kita berteriak, 
seutas benang merah itu hanya bisa lunglai.
 
Hari yang tak pernah kita harapkan pun terjadi. Ketika ego, jenuh, 
dan pemusnah janji mengangkat arti. Aku dengan sebulat ego tapi 
percayalah... aku masih menggenggam erat seutas benang merah ini. 
Tapi sudah lama, aku tidak merasakan tarikan seutas benang merah.
 Apa kau sudah bosan menjadi pecandu rindu? Seutas benang merah 
yang sangat lunglai menjawabnya. Ketika aku menariknya, aku 
mendapatkan ujung satunya... kau telah memotong seutas benang 
merah yang ada di jari manismu... penipu.
 
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

KEPAKAN SAYAP BURUNG DALAM SANGKAR



Kukepakkan sayapku sekuat tenaga. Aku ingin menabrak langit itu. tapi tidak, aku tidak pernah bisa. Sekuat apa pun aku mencoba.Aku hanya bisa melihat sekelilingku. Jeruji. Jeruji yang benar-benar aku benci.

Langit-langit sangkarku sangat berbeda. Mudah dicapai tapi terlalu sempit. aku menginginkan langit itu, yang lebih luas dan tidak akan pernah aku gapai.Tidak pernah.

Aku memiliki mimpi dan aku sangat percaya pada mimpi. jika aku bermimpi untuk terbang mencari akhir langit yang takkan pernah berakhir, apakah aku masih bisa percaya pada mimpi? aku pun berusaha mengepakkan sayapku, sayang jeruji mengunci mimpi. jeruji yang benar-benar aku benci.

jika aku tidak bisa terbang, apakah ini karena kepakan sayapku yang lemah, atau jeruji dalam sangkar busuk ini?
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

BERAPA BANYAK BINTANG?




Jika kau mampu menghitung 100 bintang yang berbeda dalam satu malam, maka satu permohonanmu akan terkabul. Jika aku mempercayai itu, apakah aku bisa melihat, setidaknya ada 100 bintang di langit itu?

Aku terduduk dalam malam tanpa cahaya untuk ke sekian kalinya. Untuk melihat dengan jelas apakah benar ada berlimpah bintang di hamparan langit tanpa batas. Aku bukan penderita rabun senja. Aku masih bisa melihat orang yang berlalu lalang begitu saja di depanku. Aku masih bisa melihat diriku di cermin, meski rapuh. Aku masih bisa melihat. Tapi kenapa aku tidak pernah bisa melihat, setidaknya 100 cahaya bintang di atas sana?


Aku terduduk tanpa sedikit pun lengah untuk menunduk. Tidak ada awan mendung, tidak ada rintik hujan, tidak ada guntur, petir atau apa pun yang seharusnya bisa menyembunyikan limpahan cahaya bintang. Mataku menerawang lepas pada hamparan langit yang berwarna hitam polos. Banyak orang yang berkata bahwa, setidaknya 100 cahaya bintang selalu menerangi langkahku tiap malam, selalu menemani tidurku, selalu menjanjikan cahaya abadi untuk hatiku yang sepi. Tapi kenapa? Kenapa usahaku yang ke sekian kalinya untuk melihat setidaknya 100 cahaya bintang selalu gagal? Aku membutuhkan setidaknya 100 cahaya bintang untuk satu saja permohonanku, tapi kenapa? Kenapa aku tidak bisa melihatnya?

Aku menyerah, memilih untuk menunduk menutup mataku dan membuka mata hatiku. Aku melihat "aku di situ. Menyudut dalam ruang tanpa cahaya, agar tidak bisa menghitung berapa malam yang telah berlalu semenjak dia meninggalkanku. Di situ, aku menggenggam hati yang hitam, mendendangkan lagu kelam. Lalu aku melihatmu di situ. Hanya kau yang bisa membuat hatiku berdegup, setelah dia meninggalkanku. Lalu kau mengelus lembut hatiku yang hitam. Mendendangkan love serenade dalam suara lembutmu. Kau berkata mencintaiku dengan keabadian, tidak akan menjadi seperti dia. Lalu kau meletakkan sebuah bintang di hatiku yang hitam. Hatiku berpijar. Aku mengingatnya, kau adalah seseorang yang meletakkan cahaya abadi di hatiku. Tapi, apa kau mengingatnya? Seingatku, kau juga akhirnya meninggalkanku, sama seperti dia.

Mataku terbuka, mata hatiku tertutup, dimensi berganti. Aku melihat hamparan langit. Berusaha setidaknya melihat 100 cahaya bintang agar satu permohonanku terkabul. Aku ingin kau kembali padaku. Itu saja. Tapi aku tidak akan bisa lagi melihat 100 bintang di langit. Karena di palung hatiku yang terdalam, telah ada satu bintang. Ya, hanya satu bintang, tapi cahayanya begitu menyilaukan, hingga aku tidak bisa melihat berapa banyak limpahan bintang di langit. Hingga aku tidak bisa lagi peduli, berapa banyak orang yang menyatakan cinta padaku.


Berapa banyak bintang yang harus menyinariku, hanya untuk mengalahkan kuatnya sinarmu?
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

KAPSUL HATI. TIME CAPSULE




Kapan sang waktu akan melakukan tugasnya dengan baik, jika aku sudah merapikan serpihan kenangan di atas kertas lalu menyimpannya dalam setiap rak di sudut hatiku? Kapan sang waktu akan melakukan tugasnya dengan baik, jika setiap serpihan kenangan itu mencari celah dari sudut hatiku untuk menyeruak keluar? Kapan sang waktu akan melakukan tugasnya dengan baik, berputar cepat, membawa raga rapuh ini menuju masa depan, dimana saat itu aku bergandengan tangan dengan seseorang, yang menyembuhkan lovephobia ini... kapan? Bahkan melodi hatiku membisu, tidak pernah tahu.

Seperti melakukan random walk, aku mendengarkan hampir semua lagu di hapeku secara acak, bahkan memejamkan mata, menyerahkan raga rapuh ini pada seutuh hati yang entah utuh atau tidak. Akan kulakukan apa saja untuk memanggil melodi hatiku. Apa kau tahu? sejak tidak pernah bertemu denganmu, melodi hatiku membisu, lumpuh oleh rindu yang menghujam kalbu, apa kau tahu? Ya, aku tahu, kau tidak pernah ingin menemui aku lagi, jadi akan kulakukan apa saja untuk memanggil melodi hatiku, tanpa menemuimu.

I quit-nymphea, the art of highschool break up-peskins, self control-painfull by kisses, eien-laruku, i remember you-yui… hingga aku terhenti pada lagu biarlah-killing me inside…

”dirimu...
di hatiku, sudah terlalu lama
biarlah, ku mencoba...
untuk tinggalkan semua....”

melodi hatiku ikut mendendangkan lagu ini. Apa ini yang diinginkan oleh melodi hatiku kali ini? Meninggalkan semua penantian dalam yang begitu menyakitkan ini? Melupakanmu? Yang telah tegap berjalan tanpa pernah melihat ke arahku? Meninggalkanmu? Yang bergandengan mesra dengan detak sang waktu? Iya. Perlahan. Melodi hatiku akhirnya menginginkan ini.

Aku pun segera merapikan serpihan kenangan itu dalam kapsul waktu. Aku menguncinya rapat. Memutar anak kunci tanpa hati, tanpa rasa. Lalu aku benamkan kapsul waktu di palung hati yang terdalam, pekat dengan kegelapan. Dimana gelombang rindu tak bisa mengusik, dimana cahaya bintang tak menyentuh, dimana aku takkan mencari, karena aku takkan berani melangkah dalam kegelapan. Aku membuka jemariku. Anak kunci masih di telapak tanganku. Aku masih bisa membukanya, ya, aku masih bisa membuka kapsul waktu itu. Tapi tidak. Aku tidak mau lagi. Kenangan itu terlalu menyakitkan. Aku pun membuang jauh-jauh anak kunci itu, tepat di hatimu. Ya, di hatimu. Kau tidak pernah ingin menemuiku. Aku tidak lagi punya nyali menemuimu. Kita tidak akan pernah bertemu lagi. Anak kunci itu, tidak akan pernah membuka kapsul hatiku. Serpihan kenangan itu, tidak akan lagi menjadi serbuk alergen yang membuat napasku tercekat. Tidak akan lagi.

Hari ini. Aku berdiri di depan cermin. Aku berkata...

AKU BERJANJI, AKU AKAN MELUPAKANMU!

Sang waktu, sekarang laksanakan tugasmu dengan baik. Putar cepat waktu dan perlihatkan padaku tentang seseorang, yang menggandeng tanganku erat dan bisa menyembuhkan lovephobia ini... kumohon.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

MEMILIKIMU, KESALAHANKU




Aku mencoba tegar berdiri di atas pasir-pasir yang luruh terseret gelombang. Aku mencoba mengalihkan mata hatiku, memandang laut tenang di seberang sana yang kemudian mendekat, menjelma menjadi gelombang yang menerkam pasir-pasir di bawah kakiku. Pasir itu menurut begitu saja, terhanyut bersama gelombang yang seenaknya saja. Kakiku turut goyah, tetap berusaha berdiri, melawan pasir-pasir yang pasrah.

Pasir itu berkilau bermandikan cahaya matahari. Pasir itu polos terhanyutkan gelombang. Pasir itu lembut saat teraba tanganku. Pasir itu seperti kamu. Tampak selalu berkilauan di mata hatiku. Hanya saja, kau dengan mudah terhanyutkan gelombang, tanpa sadar bahwa kau hanya terjatuh ke dasar laut, jauh dari cahaya matahari yang membuatmu berkilau, jauh dari aku yang selalu menantimu. Tapi kau tak peduli, tetap pergi meninggalkanku yang masih berdiri melihatmu. Pasir itu indah, seperti kamu. Aku ingin memilikinya. Tanpa ada hal lain yang memilikinya.

Kini, aku tidak akan tinggal diam berdiri untuk melihat butiran pasir itu hanyut. Terlalu banyak musim yang aku lewati untuk menantimu, terlalu bejat waktu untuk kubiarkan berputar tanpa ada kau di sisiku. Kini aku tidak akan tinggal diam. Aku melangkah mengambil butiran pasir di sekitar kakiku lalu menggenggam dengan sangat erat, bahkan sinar matahari tidak akan menemukan celah, bahkan angin tidak akan menyentuh, karena aku yakin, butiran pasir itu akan aman dalam genggamanku. Butiran pasir itu tidak butuh cahaya matahari lagi untuk terlihat berkilau, butiran pasir itu tidak butuh udara lagi untuk bernapas. Butiran pasir itu Cuma butuh aku. Aku yang selalu melihatnya berkilau, aku yang akan selalu menjadi napas untuknya. Aku yakin, tanpa harus bertanya pada butiran pasir itu. Tanpa mendengar bisikan pasir yang haus gelombang. Tanpa peduli, butiran pasir yang mendamba kebebasan.

Aku menggenggam pasir itu berhari-hari. Menggenggamnya terlalu erat, hingga tanpa kusadari genggaman erat itu malah membuat butiran pasir itu berjatuhan. Aku pun menggenggam erat lagi. Butiran pasir itu kian berjatuhan. Kenapa harus seperti ini? Apa aku salah jika ingin memiliki sesuatu yang benar-benar aku cintai?

Butiran pasir itu tidak peduli seberapa dalam aku mencintainya dan ingin memilikinya. Butiran pasir itu terus berjatuhanan. Haus akan gelombang yang mungkin membawanya ke dasar laut, menjauhiku. Haus akan cahaya matahari yang membuatnya berkilau, tidak hanya untukku. aku pun menyerah. Setelah bertahan dalam waktu yang lama, ku buka genggaman tanganku. Membiarkan butiran pasir itu berjatuhan, seiring dengan air mataku yang berjatuhan. Aku hanya ingin memilikinya, tapi kenapa aku salah? Bahkan aku tidak mendengar bisikan butiran pasir itu. Mungkin telah jenuh, saat aku merampas kebebasannya. Mungkin telah rapuh, saat aku bukanlah yang terbaik untuknya. Aku pun menatap sisa butiran pasir di genggaman tanganku, angin membawanya menjauh, menjadi debu yang tidak bisa kumiliki. Apa yang aku cintai, apa yang sempat aku genggam, apa yang ingin kumiliki selamanya kini hanya tinggal serpihan debu. Aku berusaha merelakannya. Cinta tidak harus memiliki khan? Apalagi jika memilikimu hanya membuatmu terluka. Pergilah bersama angin... berkumpulah menjadi debu bintang yang menyinari malamku. Setidaknya, bertahanlah dalam mimpiku, saat aku tidak lagi bisa memilikimu selamanya.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

PUISIKU, MELODI HATIKU. JANGAN HANCURKAN INI [LAGI]




Pernahkah hatimu berada dalam genggaman seseorang? Hangat. Lalu melodi hatimu mendendangkan lagu forever killing me inside, on a day just like this pee wee gaskins atau sun flower anthem night to remember? Aku pernah. Lalu pernahkah hatimu koyak di tangan seseorang yang menggenggamnya? Perih. Lalu melodi hatimu membisu? Aku pernah.

Pernahkah kau merasakan indah dalam luka, ketika retakan dinding hatimu membiarkan cahaya cintanya merasuki pelan? Lalu kau mempercayainya, lalu melodi hatimu berdentang lagi lalu semuanya terjadi begitu saja? Aku pernah. Lalu pernahkah kau merasakan eksaserbasi dari luka itu, ketika retakan dinding hatimu menjadi remuk, menjadi serpihan debu, saat dia yang memanggil melodi hatimu berbalik menghunus hatimu, meninggalkanmu pergi lalu kau tidak bisa mengatakan dengan baik agar dia kembali? Aku pernah.

Itulah kenapa aku menulis puisi, meski indahnya tidak melebihi sayap-sayap patah khalil gibran, meski puisi ini tidak bisa membunuh seperti arya dwipangga, meski puisi ini berkali-kali membuatmu mual [ya, jika kau membacanya, tapi tentu saja kau tidak akan pernah mengunjungi blogku lagi]. Itulah kenapa aku menulis puisi, karena aku tidak bisa berkata “ai shiteru” dengan baik. Mungkin saat mengatakan “ai shiteru” aku akan tersenyum konyol, dan kau akan berpikir aku hanya anak kecil yang ingin mempermainkan perasaan orang. Tidak. Aku tidak seperti itu. Aku juga tidak bisa berkata “kono mune ni” dengan baik. Mungkin saat mengatakan ”kono mune ni” aku akan menangis merengek seperti anak kecil, dan kau akan begitu menyesal telah menghabiskan waktu dengan orang sepertiku. Iya. Memang seperti itu. Lalu kau pun pergi dengannya. Tidak perlu waktu yang lama untuk melupakanku. Itulah kenapa aku menulis puisi. Karena aku tidak bisa menyatakan perasaanku yang begitu meluap, dengan baik. Karena kau tidak pernah mendengar ketulusan cintaku, dengan baik. Karena kita telah terpisah jarak dan waktu, dengan amat sangat teramat baik. Dengan puisi, setidaknya aku masih bisa mendengar teriakan lemah hatiku. Dari celah dinding hatiku yang retak.

Jika kau merasa semua puisi ini untukmu, apa yang akan kau lakukan?
Memintaku untuk mengakuinya? Menertawaiku? Menuduhku? memintaku untuk menghentikan ini? Jangan hentikan semua hal yang tidak ingin aku hentikan. Kau harus mengerti itu.

Jika kau merasa semua puisi ini untukmu, apa yang harus kulakukan?
Berharap kau akan kembali? Melepasnya? Merangkulku? Memintamu untuk memberikan cahaya lagi pada retakan dinding hatiku? Melodi hatiku membisu, tahu jika berteriak akan membuat rapuh merajai ragaku.

Apa kau benar-benar mengerti tentang puisiku?
Pergilah sekarang. Jika kau datang hanya untuk membunuh melodi hatiku [lagi]
Tetaplah di sini. Jika kau ingin mengganti hatiku yang rapuh, dengan hatimu yang tak sepenuhnya utuh untukku. Tetaplah di sini. Meski hatimu tak utuh untukku. Tetaplah di sini. Karena apa pun yang orang lain katakan tentang keburukanmu, hanya kaulah yang bisa memanggil melodi hatiku [lagi]
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

BUMI, MATAHARI DAN BINTANG YANG RAPUH




Hari ini, entah kenapa langit tampak begitu hitam tanpa cela. Seperti ada tumpahan kopi yang begitu pekat. Terasa begitu pahit tanpa mengecapnya. Terasa begitu pilu mengingkari rindu. Malam menghisap rinduku, seperti blackhole yang membawa rinduku ke dimensi lain. Mungkin ke suatu dimensi ruang dan waktu yang begitu lalu, tempat dimana aku membuang jauh-jauh hatiku. Hati yang kubuang di masa lalu. Apakah kau merasa hal yang sama, ketika langit tanpa kelap-kelip bintang yang jauh lalu jatuh?

Entah apa yang membuat bumi terletak di sini, matahari sebagai bintang yang paling dekat dengannya, lalu bintang yang lain terletak begitu jauh darinya. Apakah itu semua karena takdir? Terasa getir, takdir seolah tak pernah adil. Kenapa bumi selalu menganggap matahari sebagai sumber cahanya? Tidak tahukah bumi, setitik bintang nan jauh di sana, begitu kuat berpijar, mencoba menembus ruang hampa, menyalurkan cahaya, hanya untuk bumi? Jarak. Sekuat apa pun setitik bintang itu berpijar, matahari mengalahkannya. Hanya karena jarak. Ya, karena jarak.

Keagungan matahari. Mencairkan musim dingin, meluluhkan salju, meniupkan angin kehangatan. Bumi haus dekapan matahari. Bumi menganggap, matahari tak pernah mengingkarinya. Bahkan saat malam, mengutus bulan untuk menyerap cahaya matahari, lalu menumpahkannya dalam langit malam, konon, hanya untuk bumi. Meski malam tanpa bintang, bumi tak peduli. Sungguh tak peduli.

Kelip lemah setitik bintang. Sekuat apa pun berpijar. Hangatnya temusnahkan hitungan tahun cahaya ruang hampa. Tangan-tangan bintang itu pun seperti janin terpapar thalidomide, tampak begitu pendek untuk menyentuh bumi, tak berdaya. Untuk sekian lamanya, setitik bintang itu terus-menerus berpijar, tak gentar oleh waktu yang menua, mencoba menjadi lilin malam. Terus menyinari sekecil apa pun, meski raganya harus meleleh. Terus menyinari sekecil apa pun, meski bumi telah memiliki matahari. Ironis.

Sang waktu membuka gerbang kematian. Meski enggan berhenti berpijar, setitik bintang itu melemah, tidak cintanya, hanya saja cahayanya. Takdir tak hanya mengendalikan jarak, tapi juga kehancuran. Setitik bintang berpijar untuk terakhir kalinya, tampak hanya sebagai kedipan tak berarti dari bumi. Perlahan bintang itu meledak, berteriak memusnahkan dirinya. Apakah bumi mendengar teriakan itu? Tidak. Jarak dan ruang hampa membuat bisu semua itu. Setitik bintang itu pun terjatuh dari lukisan langit malam. Yang tersisa, hanya pusaran debu tanpa cahaya. Setitik bintang yang hilang. Setitik bintang yang rapuh.

Kenapa dia harus menjadi matahari untukmu? Selalu di dekatmu. Kenapa kamu harus menjadi bumi untukku? Terlalu jauh untuk kusentuh. Lalu kenapa aku harus menjadi setitik bintang yang rapuh? Meski sekuat tenaga berpijar hanya untukmu. Takdir. Takdir meletakkan jarak dan siksaan. Entah kenapa hanya untukku.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

FAIRY OF APRIL




Periku di bulan juni, bolehkah aku menjadi perimu di bulan april? Saat kau meminjamkan sayapmu di bulan juni, bolehkah aku meminjamkan sayapku di bulan april? Meskipun aku tahu, sayapku tidak sekokoh sayapnya, yang bisa mendekapmu setiap saat.

Hari ini melodi hujan mengingkari musimnya. Tidak ada lagi mutiara langit yang berjatuhan di depan mataku. Hujan mengingkari waktunya. Sama seperti periku di bulan juni, yang tak seharusnya mencintaiku dan mengingkari cinta sejatinya. Ingkar yang membahagiakanku. Beautifull lie.

Hari itu di bulan juni. 1 tahun yang lalu. Hujan tidak pernah menghalangi kita untuk bertemu. Langit menyombongkan birunya yang sempurna dan tampak lebih rendah dari biasanya. Sepertinya lagu summer song dari yui selalu terngiang di telingaku. Di bulan juni itu, kau melakukan apa pun untukku, tersenyum mengantarku sampai di depan kampus, tersenyum menjemputku di dekat taman kampus, bahkan tetap menunggu di depan kamarku saat aku begitu membencimu. Saat itu, kau meminjamkan sayapmu agar aku bisa pergi ke surga untuk memilih hal apa pun yang menyenangkanku. Apa pun yang kau lakukan di hadapanku adalah sesuatu yang membahagiakanku. Meskipun aku tidak tahu apa yang kau lakukan di belakangku. Ah, aku tidak peduli. Lalu kita membeli kue blackforest kecil, kau menancapkan lilin di atas kue dengan konyolnya dan aku pun meniup lilin itu dengan konyolnya. Saat itu aku berharap, kau ada di sisiku selamanya.

Hari itu di bulan september. 4 tahun yang lalu. Kita masih berseragam putih abu. Langit juga menyombongkan birunya yang sempurna, langit selalu memberikan musim panas untuk kita, tidakkah kau mengingat itu? Di bulan juni, kau pernah mengingatnya atau mungkin berpura-pura mengingatnya? Sayang, tidak ada gores kebohongan dari matamu, atau Cuma keyakinanku saja?

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Di bulan april ini ulang tahunmu. Bodoh. Aku malah mengingatnya. Di bulan april ini aku ingin mengucapkannya. Bodoh. Kau telah memilih seseorang untuk menjadi fairy of april, dan sayangnya itu bukan aku.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

PECUNDANG PEMBENCI KESEMPURNAAN





Aku benci kesempurnaan yang ada di sekitarku. Entah dalam wujud ambisi, pemikiran atau sebuah kemenangan yang diakhiri pujian. Aku benci kesempurnaan yang ada di sekitarku. Entah dalam bentuk apa pun itu, entah siapa pun pemuja kesempurnaan itu. Aku membenci kesempurnaan, karena itulah hal terbaik yang diagungkan semua orang.

Aku membenci raga dengan taburan pujian. Tentunya membuat ragaku tersudut tanpa dianggap apa-apa. Aku membenci pujian itu, karena itu membuat mereka selalu terlihat baik dan aku selalu terlihat salah. Tentunya aku tidak selalu salah, setidaknya, sedikit mendekati kebenaran.

Aku membenci pemuja kesempurnaan dengan limpahan pujian. Mereka selalu bergerombol melangkah ke depan, tanpa peduli mereka melakukannya dengan terlalu ambisius, bahkan menginjak ragaku yang masih terdiam di tengah para pelari masa depan itu. apakah aku membenci mereka? Atau membenci diriku yang sedikit pun tidak mau bergerak dari waktuku? Tidak, aku selalu benar, karena aku tidak ingin mengikuti mereka, para pelari masa depan. Suatu saat aku akan berjalan, satu irama dengan melodi hatiku.

Melodi hatiku tak pernah berdendang lagi. Dulu selalu berdentang mengalahkan degup jantungku, tapi kini kenapa aku tidak mendengarnya lagi? Apakah aku tidak lagi punya hati? Atau ragaku tidak mau lagi mendengar apa pun? Termasuk melodi hatiku sendiri? Aku membenci ini. Membenci diriku yang menutup diri dari diriku sendiri. Kenapa aku menjadi tidak tahu apa-apa tentang aku?

Enggan untuk duduk di kursi itu lagi dan membaca bacaan busuk yang menuntun pelari masa depan itu, meraih pujian, meraih kesempurnaan. Aku biarkan ragaku rebah, menutup mata, menutup hati, menutup telingaku dari dongeng-dongeng mereka yang sukses meraih nilai sempurna. Aku tak lagi ingin berusaha. Biarkan aku menjadi pecundang hari ini. Aku tak mau lagi mabuk oleh kesempurnaan. Aku membencinya. Membencinya. Aku membenci semuanya.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

SEBUAH PERMAINAN ABU-ABU




Hari ini langit terlihat bimbang. Tidak tampak putihnya awan, tidak tampak hitamnya malam. Langit berwarna abu-abu. Terlihat tidak memilih satu warna. Abu-abu. Seabu-abu perasaanku.

Aku tersenyum saat mengetuk telunjukku pada mouse komputer. Accept. Aku menerima dan akan memulai sebuah permainan. Aku tersenyum abu-abu. Aku tidak seputih yang kau bayangkan, tidak. Aku tidak sepolos itu. Aku tidak sejahat dia yang menyakitiku, tidak. Aku tidak sebejat itu. Aku hanya ingin mewarnai hatiku yang hampa ini dengan hitam dan putih. Terlihat abu-abu. Aku kembali tersenyum. Nanti malam, besok, lusa, tapi tidak selamanya, mari kita mulai permainan ini. Aku berhenti tersenyum, kini aku tertawa, tertawa dengan sangat keras. Keras sekali. Tapi hatiku mendengar tawa yang penuh kebimbangan. Tertawa dengan aura abu-abu.

Aku berjalan menuju sebuah kamar. Asing, benar-benar asing. Meja pendek dengan lembaran-lembaran kertas tak berkualitas, cermin kecil seukuran kartu pelajar dan sisir yang patah. Bocah tak terurus. Tidak seperti suaramu yang sedikit berwibawa. Baiklah, kita saling menipu. Kualihkan pandanganku pada bocah itu, terlihat kesusahan memakai baju. Malas, aku malas membantunya. Ku lihat lemari di dekatnya. Di atasnya terlihat botol minuman keras, aku tidak melihat apa merknya, aku tidak pernah tahu dan tidak mau tahu. Bocah bertampang tak berdosa ini seorang peminum rupanya. Pantas kau begitu mabuk. Mabuk cinta tanpa memandang dengan siapa dia sebenarnya. Kulihat bocah itu lagi. Wajah dengan aura putih. Sikap dengan keangkuhan yang hitam. Perpaduan yang membuat abu-abu. Baiklah, aku mengikuti sebuah permainan dengan kebimbangan. Dan tentunya dengan bocah abu-abu. Aku tidak salah memilih khan?

Kau memintaku selalu datang. Konon merindukanku. Aku pun berkata merindukanmu juga. Ha-ha, aku menertawai diriku sendiri. Sejak kapan aku mengatakan rindu tanpa merasakan degup jantungku? Kita sedang saling menipu khan? Entahlah, sepertinya aku menikmati permainan ini. Lalu kukenakan jaketku dan pergi ke tempatmu. Anggap saja aku sedang mengunjungi bocah gelandangan di pinggir jalan. Sedikit jahanam, kenapa aku berpikir seperti itu? Saat aku melihat ke belakang punggungku, aku melihat sayap kecil yang tumbuh. Sayap berwarna hitam. Sebuah jawaban.

Membosankan. Aku tidak pernah merasakan debaran apa pun saat kau ada di dekatku, meski 1 mm di depanku. Memuakkan. Kau tidak pernah berkata jujur di hadapanku. Omonganmu kosong. Bosan dan muak. Alasan yang bisa mengakhiri permainan ini. Hari itu hujan menahanku di tempatmu. Irama hujan mengalahkan degup jantungku. Atau lebih tepatnya, jantungku enggan berdegup kencang meski kau menghangatkanku. Sepintar apa pun kau, kau masih bocah di mataku. Kuputuskan untuk melawan hujan. Aku tidak ingin berlama-lama di tempatmu, tidak juga bersamamu.

Hari itu awan malam menumpahkan hujan bersama dengan langit hitam yang bergitu pekat, tanpa bintang dan tanpa pecundang. Aku tahu kita memulai permainan. Dan aku, hanya aku yang mengakhirinya! Bocah abu-abu tidak untuk dikenang, seonggok pecundang!


Jika kau menganggap matamu akan menjebakku
Lihat mata hatiku
Hitam, hitam pekat dibandingkan apa pun
Berpikirlah sebelum mengajakku bermain

Jika kau merasa perasaanmu rapuh
Dan harus kujaga, lihat sebongkah hatiku
Luka-luka tak bertuan
Berpikirlah sebelum menyakitiku

Jika kau merasa wajahmu beraura putih
Lihat sayap yang tumbuh dari punggungku
Hitam, hitam pekat dibandingkan apa pun
Berpikirlah sebelum mengatakan ”aku mencintaimu”
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

KILATAN CAHAYA DI TENGAH HUJAN



Belakangan ini aku tidak pernah keluar rumah. Melodi hujan tak pernah surut berdentang di telingaku. Menggantikan lagu killing me inside yang belakangan merangkul jiwaku. Aku hanya bisa menatap titik-titik air yang berlomba mencapai tanah, hanya bisa mendengar langit yang bersendawa dengan gemuruhnya atau kilatan-kilatan cahaya yang tersesat dalam langit mendung lalu menghilang. Aku ingin mengikuti kilatan cahaya itu, menghilang. Lenyap secepat mungkin.

Belakangan ini aku tidak pernah keluar rumah. Kuputuskan untuk pergi ke kota lain. Terusik bosan terdiam dalam kota penuh hujan. Tapi tetap saja saat di kota lain aku enggan keluar. Hari ini tanggal 9 februari dan tanpa pergi keluar pun aku bisa membayangkan toko-toko yang disulap menjadi warna pink, dengan banyak coklat yang dihiasi pita berwarna pink atau boneka-boneka pink dengan kata i love you atau apa pun itu. Entah berapa valentine yang aku lewati, tapi aku tidak pernah sekalipun ingin memberikan coklat valentine untuk seseorang yang spesial. Tidak sekalipun. Tapi hari ini, saat hujan berhenti di kota yang kupijaki, saat aku membayangkan banyak coklat dengan pita pink, saat aku membayangkan kau, kau yang 2 tahun lalu mengirimkan coklat untukku dan aku yang mengirimkan coklat 1 tahun yang lalu untukmu. Untuk kedua kalinya, aku ingin memberikan coklat untuk orang yang spesial. It’s my wish.

Ku lihat layar di hpku. Kurebahkan kembali kepalaku di bantal. Melihat layar hpku lagi. Kulakukan berulang-ulang. Streotypic behaviour anak autis. Melakukan kegiatan berulang-ulang yang sifatnya tidak fungsional. Kubulatkan tekad, ku dorong slide hpku. Jempol kananku mengetik sms cepat dan tidak berpikir panjang untuk mengirimnya. Mengirimnya untuk seseorang yang jauh dariku, jauh dari pandanganku dan aku yang jauh dari hatinya.

Save me
Anything was so damn empty
There were just vapors and dust..ohh life
There's nothing left to hope for something else

Wake me on the next day that I will save
'Cause that we couldn't lived of this
This night will be our diary of past away

Lagu killing me inside, diary of past away, mengiringi lamunanku yang menunggu balasan sms darimu. Hpku tidak bergetar sedikit pun. Jari tanganku menggeser slide dan menutupnya kembali. Kulakukan itu berulang-ulang. Hal itu tidak membuat sms yang kuharapkan menggetarkan hpku. Hal itu hanya membuat hpku menyala lalu mati lagi. Begitu berulang-ulang. Memberi cahaya lalu menghilang lagi.

if only i could stop the flow of time
turn the clock to yesterday
erasing all the pain

i've only memories of happiness
such pleasure we have shared
i'd do it all again

lagu evergreen dari hyde hampir menidurkanku. Tapi getaran yang begitu kencang dari hpku mengagetkanku. Getaran yang lebih hebat untuk sekedar sms yang diterima. Tidak, aku salah sangka, aku sedang menerima telepon, ku lihat namanya, tidak! aku berhenti bernapas tapi bergegas menekan tombol hijau. Aku tidak mau getaran itu berhenti begitu saja.

Ada suara yang begitu kurindukan. Ada sosok yang kuinginkan berada di sampingku saat ini. Ada raga yang kuinginkan mendekapku saat ini. Ada kau di ujung telepon. Aku ingin tahu dimana sekarang kau berada dan aku berkata jujur aku ingin memberikan coklat untukmu. Lalu dengan bisikmu kau berkata semua itu tidak perlu, kau tidak ingin merepotkanku. Merepotkanku? Jika kau menerimanya, itu akan membahagiakan aku. Sungguh.

Aku memandang langit-langit kamar dengan cahaya lampu yang begitu kokoh dan takkan menghilang begitu saja. Lampu dan kilatan cahaya dalam hujan sungguh berbeda bukan? Aku selalu ingin kau menjadi cahaya abadi untukku, bukan menjadi kilatan cahaya yang muncul lalu lenyap begitu saja. Aku juga ingin menjadi cahaya abadi untukmu. Bukan kilatan cahaya yang datang menyakitimu lalu melenyapkan diri begitu saja. Sungguh, aku tidak pernah ingin bersungguh-sungguh menyakitimu, aku ingin melenyapkan diri jika aku terlalu menyakitimu. Melenyapkan diri.

Valentine tahun ini. Aku tidak akan memberikan coklat untuk seseorang yang spesial. Valentine tahun ini. Aku tidak akan menerima coklat dari orang yang spesial. Harusnya coklat 2 tahun lalu tidak kumakan, dan harusnya kusimpan sampai kapan pun. Valentine tahun ini. Aku ingin melenyapkan diri mengikuti kilatan cahaya di tengah hujan.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

HUJAN DAN SANG PEMBUNUH HATI




Aku terbangun dalam pagi yang terasa sama. Meskipun sekarang aku terjebak dalam musim yang berbeda. Mentari terbangun dengan malas, mungkin masih terayun dalam mimpi, terlihat dengan angkuhnya berselimutkan gumpalan awan. Jujur aku iri, kenapa gumpalan awan tercipta untuk menghangatkan mentari yang sudah hangat? Kenapa bukan untuk menghangatkan bongkahan hatiku yang masih dingin? Dingin. Hingga tak mampu lagi merasakan, luka apa lagi yang akan diingatnya untuk pagi yang sama. Menurutku.


Aku memejamkan mata beberapa kali lalu menyipitkan mata melihat sekelilingku. Aku telah terbangun dari mimpi rupanya, kakiku menyentuh lantai dengan perlahan, ya, aku telah terbangun dari mimpi. Aku tidak mendengar degupan jantungku, tapi sayang, aku masih bisa menghembuskan napas perlahan. Bodoh. Dengan luka ini kenapa aku masih bisa bernapas? Kenapa aku masih bisa hidup? Kapan takdir membawa aku mati bersama luka ini? Entahlah. Lalu aku memasang headset dan mendengarkan lagu killing me inside, tormented...

You know I was dying when you told me
That I'm not yours anymore
You know I was dying when you told me
Youre just playing and fooling around with me


Pagi ini menjadi jahanam. Mentari tampak lemah tertutup gumpalan awan tanpa garis silver. Tunggu. Atau apa aku yang terlalu lemah untuk percaya, masih ada cahaya di dunia ini? Aku menutup mata sejenak, berharap hatiku tertutup untuk menjawab pertanyaan, seberapa lemah aku. Aku pun berdiri, lekas pergi dari konflik batin ini. Aku tahu waktu tak akan berhenti ketika hujan turun, aku tahu waktu terus berjalan dengan biadab, dan aku tak boleh lengah, aku harus pergi, ada banyak hal yang harus kulakukan untuk melatih otakku, jangan sampai otak ini mati, seperti hatiku yang telah sekian lama lumpuh merapuh. Mati rasa.

Pulang cepat. Aku bisa tidur siang, dan hujan benar-benar membuatku terlelap. Hujan tidak selalu jahanam kan? Hujan menghubungkan langit dan bumi meski seharusnya mereka tak pernah menyatu. Kau pernah menerobos hujan dan berdiri basah kuyup di hadapanku. Hujan pernah membuktikan seberapa besar cintamu padaku kan? Dan hujan pernah menahanmu di tempatku, kau berkata ingin menghangatkanku lebih lama. Lalu setelah waktu itu berlalu, hujan di waktu ini mengingatkanku, kau bersama siapa saat hatiku remuk melapuk? Sampai kapan kau akan membiarkanku hidup dalam kematian hati? Apa yang kau lakukan sekarang, saat hujan turun dan tanpa aku? Oya, aku terhenyak, kita berada pada tempat yang jauh kan? Apakah di sana juga hujan? aku tidak tahu apa-apa tentangmu saat ini.

The rain falls on my windows
And the coldness runs through my soul
And the rain falls, oh the rain falls
I don’t want to be alone
I wish that I could photoshop on
Our bad memories
Because the flashbacks, oh the flashbacks
Won’t leave me alone
If you come back to me
I’ll be all that you need
Baby, come back to me
Let me make up for what happened in the past

Baby come back to me
I’ll be everything you need

Lagu baby come back to me dari utada hikaru, bersama dengan irama rintik hujan membawaku terlelap. Aku selalu berharap, aku ingin tertidur selamanya. Aku tak ingin terbangun bersama dengan hati yang kau hunus ini, aku tak ingin hidup bersama hati yang terkoyak kerinduan bodoh. Sungguh, aku tak ingin hidup, saat hujan kembali mengingatkanku padamu. Sang pembunuh hati.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

7 MENIT 39 DETIK




Kau tahu? Aku benar-benar menunggu hari ini tiba. Aku telah terlelap dengan biadab selama 4 jam. Tidur siang terbiadab yang pernah aku lakukan. Aku yakin, malam ini aku akan menjadi orang pertama, orang pertama yang akan mengucapkan... selamat ulang tahun untukmu. Oh, it’s my wish...

Gemericik hujan berbisik bersaing dengan degup jantungku, aku pun menatap ambigu langit-langit kamar, pemandangan yang tampak sama saat aku tertidur di sini, terbangun melihat langit-langit kamar lalu melihat kau tersenyum nakal di sampingku. Hari itu, hujan menahanmu di sini, di kamarku dan sampai saat ini... menahanmu di hatiku. I have no reason to forget you. You have no reason to forgive me. I don’t know how to say…


Aku kembali memencet 1 tombol di hpku, aku kembali melihat tulisan yang sama press unlock and then ok. Dan aku kembali kecewa. Tidak akan ada tulisan 1 new message dengan tertulisnya namamu di bawahnya. Tidak akan pernah ada lagi. Aku tahu sms atau telepon darimu tidak akan pernah ada di hpku lagi. Tapi hati untukmu masih ada di sini. Utuh.


Kalender tanpa gambar, yang begitu membosankan dengan jejeran angka-angka, kini tampak lebih bermakna. Angka enam kulingkari dengan spidol hijau, meski angka satu tercetak dengan warna merah dan itu menandakan tahun baru, aku merasa angka enam lebih spesial. Enam bulan lalu kau meneleponku, mengucapkan selamat ulang tahun, lalu malam ini aku akan meneleponmu, mengucapkan selamat ulang tahun. Sederhana, tapi sungguh, saat memikirkannya, jantungku yang terpenjara rusuk ini terasa mematahkan rusukku dalam degupnya. Ini hanya karena aku ingin meneleponmu. Atau hanya karena memikirkanmu? Entahlah, setahuku kau membuat jantungku menjadi pemberontak.


Aku pun bergegas mengambil hp dan melihat jam berapa sekarang. Tidak. Tidak seharusnya begini. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Kenapa harus hari ini? Kenapa harus hari ini aku menyadari bahwa sekarang adalah tanggal enam? Untuk apa aku tertidur dengan biadab tadi siang? Oh god damn shit! Aku pun terduduk berusaha menenangkan diri, tapi yang kutahu batinku meronta, aku bukan orang pertama yang akan mengucapkan selamat ulang tahun untukmu, aku hanyalah orang jahanam saat melupakan hari ini bukan tanggal lima. Tapi sekarang tanggal enam. Fucking days!


Dengan penuh kekecewaan aku segera meneleponmu. Dua kali deringan telepon, lalu.. Om swastyastu. Owh, sejak kapan kau jadi bertakwa seperti itu? Aku tertawa dalam hati. Tertawa karena kata yang kau ucapkan, atau tertawa senang karena aku bisa mendengar suaramu lagi? Entahlah, saat itu hatiku tertawa begitu tulus. Aku pun minta maaf karena terlambat mengucapkan selamat ulang tahun dengan alasan konyol dan suaraku yang masih merengek, masih manja, dan tidak akan pernah sedewasa yang kau inginkan. Tapi aku cuma bisa jadi diriku sendiri, tidak lebih. Saat itu aku mendengar suaramu di ujung telepon, ya aku mendengar suaramu, bukan lagi suara operator busuk yang mengatakan kau ada di luar jangkauan. Saat itu aku mendengar suaramu di ujung telepon, ya aku mendengar suaramu, bagaimana kau menjawab pertanyaan apa kabar dariku dengan ramah, berapa lama kau ujian, bagaimana kau menanyakan kabarku, bagaimana kau menceritakan susahnya ujian besok, dimana kau tinggal sekarang dan dimana aku tinggal sekarang. Masih, aku masih berada di tempat yang sama, tempat dimana hujan pernah menahanmu. Masih, aku masih berada di tempat yang sama, tempat dimana aku menggenggam hati yang masih mencintaimu. Utuh. Tuhan, kenapa saat ini kakiku masih menyentuh lantai? Harusnya sekarang aku sudah mati kan? Harusnya sekarang aku sudah berada di surga kan? Tuhan, aku masih mencintainya. Masih menunggu perasaannya kembali. Kembali mencintaiku, bukan kembali melukaiku.


7 menit 39 detik. Bukan waktu yang lama, tapi bisa mengobati luka lama. Yang aku tahu luka lama hanya bisa diobati olehmu, bukan olehnya. 7 menit 39 detik menyadarkanku, hatiku hanya bisa tersenyum tulus saat bersamamu, meski kau tidak lagi di sampingku, meski kau telah berada far far away nd blews my dreams away toh juga aku Cuma bisa berkata no way pada cowo laen. Itu Cuma karena aku menunggu hatimu. Seutuh dulu. Untukku.


*it’s okay dia ga mungkin ngunjungin ni blog, takut mual nd muntah darah, but i just wanna say...*

This diary special for my memorial love…
Dun wanna hurt u anymore
Please forgive me…
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

DENPASAR PAGI INI, GIANYAR PAGI ITU




Denpasar pagi ini
Aku terbangun dari mimpi keji
Menghidupkan dispenser
Sadar tidak ada yang membuatkan air hangat
Lalu aku tertidur lagi

Gianyar pagi itu
Aku terbangun dari mimpi imaji
Mengaduk segelas susu, meneguk
Lalu bermandikan air hangat
Mencairkan kebekuan hati

Denpasar pagi ini
Mentari pemalu, mobil penyombong
Aku terjebak
Pada lampu merah dengan mesin penghitung
Mengerjapkan mata, tak sepenuhnya sadar

Gianyar pagi itu
Mentari penyengat, anjing penggonggong
Aku bersiul
Pada jalan pintas tanpa lampu merah
Mengerjapkan mata, dia melintas di dekatku

Denpasar pagi ini
Kampus yang megahnya gagah
Seabrek otak-otak brilian
Menyapa ”sudah belajar sampai mana?”
Jenuh berpeluh
Bahkan tak ada sosok yang memancing decak

Gianyar pagi itu
Sekolah di sebelah cup river
Wara wiri putih abu
Menyapa ”tumben telat?”
Nakal tersenyum
Saat telat, ada sosok yang memancing decak
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

LONG DISTANCE




Suaramu di ujung telepon
Menghitung risau
Berapa lama kita akan bertemu
Menikam jarak
Rangkul lelah benak

Hari ini hujan, kau tahu?
Sama seperti waktu itu, kau ingat?
Kau melaju berbekal rindu
Hujan dengan bengis kau tepis
Pagi itu kau berdiri di hadapanku
Aku belum membasuh wajahku
Sepagi ini, sehujan ini
Sebegitu rindunya dirimu padaku, kau ingat?

Hari ini hujan, kau tahu?
Sama seperti waktu itu, kau ingat?
Kau mendekapku di tengah rerumputan hijau
Lalu hujan membasahi rerumputan itu
Kita tidak akan peduli kan?
Kau mendekapku tanpa henti

Kau melakukan banyak hal untukku
Kau tahu? Harusnya kau tahu aku tahu
Lalu waktu dengan bejatnya
Menghunus abadi
Kau menangis di sana
Aku mengais ego di sini
Salahkan jarak
Yang kekal meski aku tikam

Kau tinggalkan seutuh hatimu di sini
Lalu aku mencabiknya
Saat kau menangis
Aku tidak bisa menghapus air matamu
Jarak, jarak membuat kita seperti ini...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

GEJOLAK OMBAK







Hatiku hanya punya satu gejolak. Otakku hanya punya satu pikiran. Jiwaku hanya punya satu kemuliaan. Tapi bagaimana jika satu dipengaruhi oleh 2 hal? Elokmu dan kesempurnaannya. Kita bertiga terpisah oleh jarak. Kadang mendekat, kadang menjauh. Apakah rapuh? Tidak, kau dan dia menciptakan gejolak dalam hatiku.


Malam ini aku terhanyut oleh bulan purnama yang tampak kemilau pada lukisan malam. Bahkan bintang yang bisa menghasilkan energi cahaya dengan sendirinya, hanya karena jarak, terlihat kalah telak oleh sinar bulan yang sesungguhnya hampa. Sang bulan hanya mengemis cahaya pada matahari, tapi jika sang bulan meniada, malam seakan redup.


Meskipun penuh kepalsuan, sinar bulan tampak lebih elok di mataku. Aku tidak perlu memicingkan mata untuk melihat sang bulan. Aku mencintai keelokan yang sederhana. Berbeda dengan sinar matahari yang sesungguhnya berasal dari energinya sendiri tapi keelokan sinarnya yang mahasempurna membuat aku merasa tidak pantas untuk melihatnya. Terlalu terik. Aku enggan mencintai elok yang sulit kujangkau.

Sang bulan
Begitu sederhana
Tampak bulat sempurna
Tapi kenapa kau serupa merana di atas sana?
Aku mengingat raga yang elok dengan sorot mata yang terluka
Sang bulan itu selayaknya engkau...
Cinta pertamaku.


Sang mentari
Setia menyinari pasrah langkahku
Tampak tegar tanpa sentuhan
Tapi elokmu terlalu sempurna
Apa ragaku yang hina tak pantas untukmu?
Aku mengingat raga yang tegar tapi sulit kujangkau
Sang mentari itu selayaknya dia...
Cinta terakhirku.


Pagi yang bejat. Berturut-turut aku tidak merasakan terik mentari pagi. Derasnya hujan senantiasa mengaburkan pandanganku apalagi dengan mata yang menyipit bodoh, aku tak bisa lagi melihat langit dengan lukisan biru yang sempurna, hanya gumpalan awan abu-abu tanpa garis silver, mendung yang mahasempurna. Bahkan hari demi hari pelangi tidak muncul untuk menggantikan sinar matahari yang mulai enggan menyinari pasrah langkahku. Kenapa pagi ini lukisan langit tanpa matahari terasa menyakitkan? Kenapa harus hari ini? Saat dia beranjak pergi meninggalkanku, berjalan dengan ketegarannya dan bersabda, aku bukan apa-apa lagi baginya. Eloknya terlalu sempurna, sulit kujangkau. Aku pun menekuk jari telunjukku untuk menghapus air mata yang mulai membasahi pipiku. Cukup. Batinku meronta. Sudah cukup semalam aku menangisi ketegarannya tanpa aku. Tanpa aku dia tetap sempurna. Ya, tanpa aku.

Malam yang sepi. Aku berjalan pada tepian ombak untuk melihat sinar bulan lebih jelas. Aku menyilangkan kedua tanganku dan mengusap-usap kedua lenganku untuk menghangatkannya. Desir angin yang dingin menyibakkan rambutku yang tergerai. Aku pun menikmatinya, mencoba bernapas lebih dalam dan menghembuskannya dengan kencang melalui mulutku. Langkahku pun terhenti. Deburan ombak tampak lebih bergejolak dari biasanya. Hari ini bulan purnama. Gejolak ombak saat bulan purnama. Tampak lebih hebat bukan?

Konon pasang surut air laut dipengaruhi oleh bulan bukan matahari. Bukan bentuk atau energi yang lebih besar yang dapat mempengaruhi pasang surut air laut. Pasang surut air laut hanya terpengaruh oleh jarak. Ya, hanya jarak. Mendekatlah... maka akan terasa gejolak yang berbeda.


Aku pun terus berjalan dan menghitung entah berapa purnama yang telah aku lewati untuk melupakan ketegarannya dan menanti kembalinya sinar mentari. Tidak akan cukup waktu untuk mengatakan sangat banyak, sangat banyak waktu yang aku habiskan untuk melupakan dan menantinya kembali. Tapi cukup waktu untuk mengatakan bahwa dia sempurna, tanpa aku. Semakin aku mengingatnya, langkahku terasa semakin enggan melewati pasir dan kerikil ini. Dulu aku selalu mengeluh kerikil ini mengganggu perjalananku dan selalu mengeluh kerikil ini membuat kakiku merasakan sakit dan tidak nyaman. Tapi kenapa sekarang aku tidak mengeluh seperti itu lagi? Mungkin karena rasa sakit di hati ini menciptakan kehampaan sekujur sarafku agar tidak merasakan rasa sakit yang lebih menyakitkan dari hati yang telah menjadi serpihan. Serpihan karena ketegarannya tanpa aku, kesempurnaannya tanpa aku. Kemilau yang sulit aku jangkau.

Apa dia tahu?
Serpihan hati bukan keutuhan
Aku tidak akan bisa mencintai siapa-siapa lagi
Karena hati ini telah menjadi serpihan
Lapuk meremuk.
Apa dia tahu?
Dia adalah cinta terakhirku.


Pasang air laut pun menciptakan deburan ombak yang lebih bergejolak, menghantam apa pun yang ada di sekelilingnya. Serupa rasa cinta yang membuat kita memberontak terhadap segalanya. Tahu kenapa? Itu karena sang bulan mendekatinya terlebih dulu, menampakan keelokannya yang sederhana pada hamparan lautan. Sang bulan yang mendekati terlebih dulu.

Saat aku membisu, langit yang terdiam tampak menawarkan sang bulan yang begitu elok untuk mendekatiku, bahkan aku dapat merasakan kehangatan sinar bulan purnama yang seolah mendekatiku.


Menggantikan sinar matahari yang dulu mengahangatkanku
Hangat yang menyusun serpihan di hatiku menjadi sesuatu
Sesuatu yang kau sebut
Rasa pada suatu masa.


Apakah salah saat seseorang menawarkan keelokannya dan kita bergejolak? Seharusnya aku tahu, aku mulai muak bercerita tentang keelokan, kasih, dan berujung pada kehampaan.

Seharusnya aku tahu.
Tapi bagaimana jika kau yang menawarkan keelokanmu padaku?
Begitu dekat
Entahlah...
Sorot matamu yang terluka
Serpihan hatiku yang terluka
Apakah kita bisa saling menjaga?
Sekali lagi
Melebihi kisah kita terdahulu?
Apakah kita bisa saling menjaga sekali lagi?
Cinta pertamaku.


Deburan ombak mengacaukan aliran perasaanku
Sementara elok telah menjerat keraguanku
Rasa muak dalam diriku terkapar
Aku bergejolak...
Terhanyut dan kembali bergejolak
Kau mendekat, kau kembali menjadi segalanya bagiku
Cinta pertamaku.

Hari ini masih seperti kemarin. Matahari tak jua menampakkan sinar kehangatannya, masih berkuasa mendung selayaknya kehilangannya telah terbendung. Apakah aku masih menangisinya? Tidak, aku akan berlari pada malam, mengadu pada bulan dan tersenyum memandang keelokannya.

Aku telah mengganti cinta terakhir dengan cinta pertama
Kehilangannya membuatku mendapatkanmu kembali.

Malam ini pun aku kembali menanti sinar bulan yang begitu kupuja. Tapi apa? Sinar bulan tampak begitu redup. Bulan mati. Bulan purnama telah berakhir. Aku pun terduduk lemas tapi pandanganku masih menerawang kuat sejauh apa pun untuk mencari dimana sinar bulan yang kurindukan. Bersenandung pilu.

Keabadian yang mati.
Bereinkarnasi sebagai kehampaan.
Bahkan tanpa reruntuhan sinar...
Dead moon. Bulan yang bejat.

Serupa...
Aku yang mencintaimu sekali lagi
Tapi kenapa kau meninggalkanku sekali lagi?
Cinta pertamaku.

Deburan ombak tampak enggan bergejolak, tak ada lagi bulan purnama yang menggodanya. Apakah matahari bisa membuatnya bergejolak? Bodoh. Matahari telah bersembunyi pada singasananya. Termakan waktu.

Aku pun kembali terkurung dalam kegelapan
Desiran angin malam yang dingin tak terasa olehku
Di sini...
Di dalam hati ini...
Dingin terasa jauh lebih menyakitkan
Melumpuhkan sekujur saraf
Hatiku membeku
Bahkan hancur seketika
Mencair menjadi riak gelombang
Kembali bergejolak
Apakah karena keelokanmu?
Tidak!


Kesempurnaannya...
Yang angkuh.
Keelokanmu...
Yang palsu.
2 yang mendekat
Memanggil satu gejolak...

Gejolak kebencian.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

FATE OR FAITH






Apa yang akan kita pilih tentang cinta? Apakah cinta itu takdir? Atau sebuah keyakinan? Jika seandainya kita dihadapkan pada 2 jalan terpisah, dimana jalan pertama harus kita jalani percintaan tergantung pada takdir sepenuhnya dan jalan kedua harus kita jalani percintaan tergantung pada keyakinan sepenuhnya. Jalan mana yang akan kita pilih?


Mungkin aku akan memilih jalan keyakinan,
bukan takdir.
Karena hanya pada jalan keyakinan aku yakin dapat menemukanmu,
serapuh apa pun kita,
selapuk apa pun kisah kita
Aku yakin akan menemukanmu.


Bukan pada takdir, yang kelak akan memisahkan kita.


Kenapa harus ada takdir?
Saat semua makhluk hidup telah dianugerahi kemampuan untuk beradaptasi.


Kenapa harus tunduk pada takdir?
Saat dunia ini telah menciptakan seleksi alam pada semua makhluk hidup.

Kenapa waktu menyembah takdir?
Saat aku belum pantas mengatakan sayonara untuk dirimu yang kemilau.

Mahasempurna.



Keyakinan berperan sebagai katalisasi dalam reaksi perubahan mimpi untuk menjadi arti.
Arti yang seharusnya abadi.
Abadi yang kupersembahkan untukmu.
Keyakinanku ini untuk menemukanmu.
Apa kau tahu itu?


Lalu cinta terletak di sebelah mana?
Apakah pada takdir?
Dimana kau akan merasa mencintai seseorang pada pandangan pertama,
merasa ciuman pertamamu adalah segalanya,
atau cinta pertamamu adalah awal dan akhir yang sempurna?
Tidak, sedikitpun aku tidak mempercayai takdir

Lalu apa yang membuatmu datang padaku
Saat aku muak dengan cinta
Saat matamu begitu terluka tapi menawarkan cinta
Lalu aku rebahkan pasrah pada cintamu
Lalu kau meyakinkanku aku kembali
Kembali menjadi segalanya bagimu...

Apakah pertemuan kedua kita adalah takdir?
Hampir terlena ini takdir
Tapi semua akan berubah
Itu semua hanya keyakinanmu
Saat berkata aku adalah segalanya bagimu
Keyakinanmu bahwa tak akan berpaling
Tapi apakah kau tahu?
Waktu menguji keyakinanmu
keyakinanmu menjadi jasad
terlahir sebagai seutuh pengkhianatan


seutuh pengkhianatan.


Apa aku masih punya keyakinan?


Cinta bukan suatu kepastian
Tapi suatu keyakinan.
Keyakinan bahwa hanya ada satu orang
Hanya satu orang yang pasti membuat kita bahagia
Entah dimana...


Mungkin kita tidak saling mencintai pada pandangan pertama
Aku juga bukan cinta pertamamu
Dan kamu bukan ciuman pertamaku
Tapi kita bisa saling mencintai
Aku yakin kita bisa saling mencintai


Aku yakin cinta kita begitu kuat
Tapi kenapa waktu menghunus kisah kita jauh lebih kuat
Begitu biadab.
Terusik bisik
Aku tidak bisa lagi bersamamu
Kau akan meninggalkan aku selamanya
Akhir ini...
Berulang-ulang membunuh keyakinanku
Lalu aku harus berjalan dimana?
Takdir yang menjadi kepastian tapi membuatku terpisah darimu
Atau tetap pada keyakinan meski lelah menanti?


Sejauh apa aku yakin
Untuk mengejarmu
Atau lelah menantimu
Sang waktu menjadi penguasa yang biadab
Menghunus keyakinan
Memberi singasana pada takdir
Bagaimana dengan kisah kita?
Terpisah...


Terpisah oleh takdir.


Keyakinan telah menjadi jasad
terlahir sebagai seutuh pengkhianatan
Dan aku yakin seutuhnya
Aku membencimu.


Keyakinan ini...
Begitu membencimu.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

MIMPI DAN ABADI





Dimanakah mimpi? Akankah abadi? Adakah tempat bernaung agar mimpi dan abadi menjadi satu? Ataukah mimpi dan abadi terletak beribu-ribu mil jauhnya? Terpisah pada singasana mereka masing-masing?

Entahlah.

Aku tetap berjalan pada tepian ombak yang perlahan lemah mendekatiku. Menjadi buih lalu kembali menjauh.

Kembali menjauh.

Aku menengadahkan kepala dan memejamkan mata, perlahan menghirup udara begitu dalam berharap langit yang begitu rupawan terhirup masuk ke dalam ragaku yang masih hina ini.

Mimpi.
Sekali lagi aku bermimpi.

Aku pun membuka perlahan mata ini, mencoba terbangun dari mimpi sesaat atau mungkin mimpi yang bodoh. Aku mulai memandang bentangan indah yang menghunus resah. Sekelumit langit yang terhangatkan awan putih, pulau tak berpenghuni di ujung sana, silau matahari yang memalingkan mata ini.

Sungguh
Langit tak pernah terpisah dari keindahan
Meski berkali-kali kenyataan ini menyakitkan
Karena langit tak pernah bercelah untukku.

Aku pun membiarkan angin mengacaukan rambutku. Desiran angin takkan mengusik pandanganku. Aku memandang lurus ke depan, enggan berpaling

Terlihat...
Sekelumit langit yang terhangatkan awan putih,
Serupa mimpi
Pulau tak berpenghuni di ujung sana,
Kesepian yang abadi
Kenapa kalian tampak menyatu?
Apakah di ujung sana mimpi dan abadi menjadi satu?
Menjadi satu?

Tanya yang bersenandung dalam benakku terusik oleh deburan ombak yang menggoda mataku untuk berpaling. Aku melihat ke bawah. Ombak yang menyapa dengan gagahnya perlahan menjadi buih lalu menjadi surut.

Apakah niatku untuk menyatukan mimpi dan abadi akan surut?
Tidak, tidak akan.
Tidak akan pernah.

Butir-butir pasir yang menutupi kakiku yang ragu berpijak pun ikut surut bersama ombak itu. Kakiku, kakiku terasa begitu lemah, semakin ragu berpijak pada kenyataan ini, semakin tergoda mengikuti ombak itu. Ombak itu terlihat kembali ke tengah laut. Apakah ombak itu memanggil kakiku yang ragu berpijak untuk beranjak ke tengah laut? Lalu terhanyut ke tempat itu? Tempat dimana mimpi dan abadi bersatu. Terkisah rindu meski pilu.

Aku pun kembali merasakan euforia ini
Ingin berpisah dari hamparan kenyataan yang membosankan
Ingin bernaung pada hamparan mimpi yang abadi
Agar aku bisa bermimpi tentangmu selamanya
Selamanya.

Aku pun mengangkat terusan yang berkali-kali terbasahi oleh ombak yang biadab. Aku pun berjalan perlahan untuk mencapai tempat itu. Aku tahu ombak akan menghempasku berkali-kali. Aku tahu mentari akan wafat dengan bejatnya. Bahkan aku sangat tahu, aku akan terhunus waktu dalam kegelapan di tengah lautan ini sebelum mencapai tempat itu. Benakku rapuh tersentak, aku tidak boleh menyerah, hanya pada tempat itu aku akan selalu bermimpi tentangmu, karena pada hamparan kenyataan ini aku sangat tahu

Kau bukan milikku lagi.
Kau menjadi miliknya lagi.

Angin dingin mulai mempertanyakan ingin. Ingin terus berjalan? Ingin terus berlari? Ingin kembali? Enggan. Aku tidak akan kembali. Aku akan mencapai tempat itu. Seutuh keyakinan yang takkan rapuh.

Aku berjalan semakin cepat ke tengah laut, berusaha berlari meski terlihat konyol. Deburan ombak menghempasku berkali-kali bahkan percikan buihnya mengenai wajahku, sempat menghalangi pandanganku tapi tak akan menghalangi inginku. Aku ingin ke tempat itu. Dimana aku bisa mendekapmu dengan kemilau sayapku. Mimpi yang abadi.

Matahari yang oranye menyala membagi sinarnya pada lukisan awan putih. Sinarnya terbias sebagai lukisan langit oranye dengan garis emas yang tidak teratur tapi tetap terasa indah. Aku telah melangkah sekuat mungkin tapi senja tak berpihak padaku, bahkan sang waktu berputar lebih kuat dari langkahku. Langkahku terhenti mati. Matahari meninggalkan tempatku terhenti. Senja pun menjadi lukisan lapuk yang biadab. Sang bulan dengan samar mulai menyuguhkan rupanya yang putih pudar. Sang bintang berkelip mungil dengan cahaya yang miskin.

Hentikan.
Hentikan lukisan langit yang biadab ini
Aku benci malam dengan kegelapan yang kelam
Mimpi atau abadi belum sempat tersentuh
Kenapa aku berdiri pada kegelapan yang pekat?

Aku menatap pemandangan di sekelilingku. Sepi menanti, mati tertatih. Desiran angin terasa lebih dingin dari sebelumnya atau apakah semangat ini yang mulai mendingin? Tak lagi membara? Sepi terusik deburan ombak yang semakin bejat, bejat menghempasku.

Pulau yang tak berpenghuni dan lukisan langit yang terhangatkan awan putih tak lagi terlihat, pemandangan itu telah wafat.

Dimana mimpi?
Apakah abadi?
Pergi, pergi jauh dari sisiku
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

MALAIKAT BERSAYAP HITAM



Setiap orang punya mimpi tanpa peduli apakah mimpi itu utuh atau rapuh. Entah bisa mewujudkan atau tidak, semua orang tetap punya mimpi, begitu juga dengan aku. Aku selalu bermimpi untuk menemukan celah pada hamparan langit itu, terbang mencari akhir dari langit yang tak pernah berakhir, tapi apakah aku punya sayap untuk terbang? Menyentuh langit terendah pun aku cukup hina.

Aku pun bersenandung dengan langkah yang tidak pernah tahu dimana sesungguhnya aku berpijak. Dimana mimpi? Dimana hati? Aku ingin mencari tapi terselimuti kabut kehampaan. Hingga pandangku terusik sebongkah hati. Sebongkah hati, kenapa kau tampak begitu sepi? Apakah mati? Tidak, kau hanya terhanyut mimpi, terlelap dalam dekapan kehampaan. Benak ini ingin berlalu, tapi sebongkah hati itu tunjuk aku di sisinya. Sebongkah hati itu menjanjikan seutuh mimpi. Lihat, aku menggenggam seutuh mimpi! Selamat tinggal sepi... aku punya seutuh mimpi!

Sebongkah hati itu ingin aku mendekapnya. Sayang, aku tidak punya sayap. Sebongkah hati itu memberikan seutuh mimpi tapi aku harus memberikan apa? Sebongkah hati itu menjadi dingin. Seutuh mimpi ini dalam genggamanku tapi aku harus mendekap dengan apa? Batinku berbisik lirih, berikan aku sayap, berikan aku sayap, berikan aku sayap, akan ku ganti seutuh mimpi ini dengan sayap asalkan sebongkah hati itu bisa kudekap. Reruntuhan sayap dari langit pun berjatuhan, aku pun merangkainya. Mengenakan sayap itu pada sebongkah hati yang hampir mati.

Perlahan sebongkah hati itu bersinar,
menyilaukan.
Sebongkah hati itu melayang,
menyebalkan.
Sebongkah hati itu terbang,
menghilang.

Tidaaaaaaak! Aku tidak mau sendiri lagi! Aku berteriak pada hamparan langit sekuat batin ini meronta. Aku memejamkan mata, memeluk lutut yang gemetar, hembusan angin terasa begitu pilu. Batin ini terus meronta,

Sesungguhnya aku yang ingin memiliki sayap, bukan sebongkah hati itu
Sesungguhnya aku tak rela sebongkah hati itu pergi, tinggalkan aku sendiri lagi
Sesungguhnya aku ingin sebongkah hati itu kembali.

Sejenak langit tampak membisu tapi angin yang semilir terasa lebih biadab. Rambutku yang panjang terurai menghalangi lapangan pandanganku. Tapi di situ...
Sebongkah hati itu kembali!
Punggung ini terasa mengusik
Aku menoleh ke belakang
Aku tidak percaya! Sayap yang elok tumbuh dari punggung ini
Aku punya sayap!

Aku pun terbang perlahan meninggalkan sebongkah hati itu sendiri. Aku menggenggam seutuh mimpi dengan erat. Aku tidak peduli sebongkah hati itu sendiri, sepi atau mati. Aku hanya ingin menyentuh langit dengan sayap ini. Aku hanya ingin mencari mimpi dengan sayap ini. Aku hanya ingin mencari akhir dari langit yang tak berakhir itu sendiri. Hanya sendiri. Dari tempatku melayang aku menoleh ke belakang

Kepakan sayap terhenti
Jiwaku pilu
Sebongkah hati itu...
Sendiri, sepi ataukah mati?
Selayak aku terdahulu
Serupa aku yang berjalan dalam kehampaan
Tanpa sayap

Aku merasa hina, aku tidak boleh meninggalkannya sendiri. Aku pun mengepakkan sayapku lagi. Aku berjanji akan mengambil sebongkah awan untuk menghangatkannya. Sayap ini tidak akan kugunakan untuk mencari mimpiku. Aku ingin menggunakan sayap ini untuk mengganti seutuh mimpi yang pernah sebongkah hati itu berikan. Aku pun mengepakkan sayap ini dengan sekuat tenaga, tapi kenapa hanya untuk menggapai awan saja sayap ini terlalu lemah? Apakah terluka? Aku pun melihat sayap ini

Aku membayangkan mengenakan sayap yang berkilauan
Tidak.
Sayap yang tumbuh dari punggungku
Jauh. Jauh dari kemilau
Sayap hitam
Sayap yang tumbuh dari punggungku adalah sayap hitam

Jiwaku pun semakin melemah. Langit memang terdiam tapi terasa semakin kelam, tunjuk aku pergi jauh darinya. Hembusan angin pun menghempasku. Aku telah mempunyai hati yang tulus untuk menjaganya kembali tapi kenapa sayap ini hitam?

Aku hanya malaikat bersayap hitam.

Aku pun terjatuh merapuh pada bentangan kehampaan
Sayap hitam ini pun perlahan lapuk
Sebongkah hati itu mati
Kulihat seutuh mimpi yang masih aku genggam
Bukan utuh
Seketika rapuh

Aku pun menangis seraya mengais rapuhan mimpi yang tersisa. Aku pun berlari sekuat tangisanku dengan kamilau rapuhan mimpi yang masih ada dalam genggaman ini. Semua membenci malaikat bersayap hitam. Entah langit, entah hembusan angin semua mengusir aku dari bentangan itu. Aku pun menemukan terowongan yang gelap. Sesungguhnya aku takut pada kegelapan tapi aku ingin bersembunyi, aku pun berlari ke dalam terowongan itu. Menghindari langit yang kelam, menjauh dari hempasan angin. Kemilau rapuhan mimpi itu menjadi satu-satunya sinar yang bisa memanjakan mata ini. Aku pun terus merangkai rapuhan mimpi itu, berharap bisa menjadi sesuatu yang utuh. Setelah utuh, batin ini akan memohon agar sebongkah hati itu kembali hidup, meski aku harus mengorbankan mimpiku untuk menyentuh langit. Aku akan merelakannya untuk sebongkah hati itu. Aku pun terus menyusun rapuhan mimpi itu. Mendekap enggan untuk berhenti. Terhunus waktu merangkai mimpi yang pilu.

Dua musim telah terlewati
Takkan peduli sejauh apa langit telah berganti
Entah biru yang mahasempurna
Atau gumpalan awan dengan garis silver
Aku takkan terkalahkan waktu
Rapuhan mimpi ini akan kurangkai sampai menjadi seutuh mimpi
Selamanya

Perasaanku yang begitu dingin bahkan hampir membeku perlahan terasa hangat. Perasaan yang pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasakan reruntuhan sayap-sayap yang tak bisa kulihat warnanya. Perlahan berjatuhan dari tempatku bernaung. Aku pun memejamkan mata. Aku mulai merasakan dekapan sayap yang begitu hangat. Perasaan yang pernah hilang namun terasa lagi. Aku pun membuka mata dan melihat ke belakang. Terlihat seorang laki-laki bak seorang pangeran. Lelakiku?

Wajah yang putih tanpa hina
Tatapan yang begitu lemah
Senyum yang hangat
Menjanjikan aku pada bentangan langit itu
Rasa pada suatu masa yang enggan aku tinggalkan

Aku hanya terpaku pada wajahnya. Akan kulupakan rapuhan mimpi itu. Pangeran ini tampak begitu berkilau. Mengangkat raga ini dari kegelapan yang hina. Pangeran ini malaikatku. Malaikat ini mulai mengepakkan sayapnya tapi aku tetap terpaku pada wajahnya, masih ingin mencari sesuatu yang pernah aku rasakan sebelumnya. Perasaan yang pernah ada ”waktu itu”, apakah cinta? Luka? Hampa? Entahlah, malaikat ini mengganti ”waktu itu” dengan ”waktu ini” membawa raga tanpa sayap ini mencari akhir dari langit yang tak pernah berakhir. Seutuh mimpi.

Malaikat ini menggenggam tanganku begitu erat seakan enggan melepas raga yang hina ini. Aku hanya terpaku pada wajahnya yang tulus meski sesekali melihat awan yang kulintasi. Aku belum pernah terbang setinggi ini tapi kenapa aku merasa pernah merasakan perasaan serupa ini? Entahlah, aku punya mimpi menyentuh langit, malaikat ini punya sayap untuk mewujudkan mimpiku. Hingga saat ini hanya itu yang aku tahu.

Di sekelilingku terdapat gumpalan awan yang seolah ingin tersentuh tapi saat kusentuh aku tidak dapat mengambilnya.

Keindahan yang hampa.

Aku pun kembali melihat malaikatku, dia tampak tersenyum bahagia melihat tingkah lakuku. Aku pun menatap matanya begitu dalam, tersenyum bahagia. Malaikatku menarik tangan yang lemah ini untuk mendekat ke arahnya. Kami saling berpandangan begitu dalam. Tersenyum bahagia. Mata itu... aku pernah melihatnya tapi dimana? Kapan? Ingatan yang hilang tapi begitu dalam. Kita masih berpandangan dengan tatapan dalam yang begitu ingin menyusuri, tangan kirinya mendekap pinggangku, aku merebahkan raga yang lelah menanti ini pada pundaknya, pundak yang sama, entahlah, aku merasa pernah menitipkan pasrah pada pundak ini. tapi dimana? Kapan? Ingatan yang hilang tapi begitu dalam. Aku pun tetap bersandar tanpa peduli sebanyak apa tanya bercerita. Tangan kanannya membelai rambutku. Mata kami tidak putus untuk bertatapan. Wajahnya mendekat. Mata ini kupejamkan pelan. Bibirnya yang lembut pun terasa menyentuh bibirku. Hangat. Semakin dalam. Apakah ini yang pertama? Bukan, aku pernah merasakan ini sebelumnya. Apakah ini yang terakhir? Iya, aku ingin menjadikan malaikat ini sebagai kisah terakhirku. Malaikat ini pangeranku.

Perlahan sekelilingku terasa berbeda, bukan lagi awan tapi biru yang maha sempurna. Perfect blue. Malaikat ini membawaku terlalu tinggi. Bahkan lebih tinggi dari apa yang pernah aku impikan. Tatapan mata yang tidak pernah putus. Genggaman tangan yang begitu erat. Elok wajahmu yang tidak pernah memudar. Kita tidak akan pernah terpisah khan? Senyum. Senyum itu selalu memberi jawaban. Malaikat ini tidak akan pernah melepasku. Keyakinanku dan takdirku.

Entah kenapa hembusan angin yang biadab merusak keindahan ini. Terlihat kabut menghalangi pandangan ini. Kabut kehampaan. Aku pernah merasakan ini tapi entahlah aku mulai resah. Akankah terpisah? Di sela kabut itu aku melihat dekapan sayap hitam yang begitu kuat mengepakkan sayapnya.

Sayap hitam yang kuat itu mendekap malaikatku
Seekor iblis.

Kenapa sudah sejauh ini aku tak jua memiliki kemilau sayap untuk mendekap orang yang aku cintai? Perlahan genggaman erat tangannya melemah. Aku berusaha menelusuri wajahnya di tengah kabut

Masih...
Wajah yang putih tanpa hina
Tatapan yang begitu lemah
Senyum yang hangat
Tapi kenapa aku terlepas? Ataukah terhempas?

Perlahan tanganku terlepas, aku mulai merasa tubuhku melayang bodoh pada kabut kehampaan. Aku pernah melupakan perasaan ini tapi membuang semua ingatan ini hanya menciptakan hampa. Aku mulai berusaha mengingatnya

Wajah, tatapan dan senyumnya itu
Sesungguhnya milikku terdahulu
Dekapan, mimpi dan malaikat ini
Sesungguhnya milikku terdahulu
Terlepas, terhempas dan hampa
Sesungguhnya yang malaikat ini lakukan terdahulu
Cinta.
Luka.
Hampa.
Benci.
Mati.
Perasaan yang kau ajarkan dulu
Cinta pertamaku.

Meski tahu aku tidak punya kemilau sayap untuk mendekapmu
Meski tahu kau sulit terlepas dari dekapan sang iblis
Meski tidak tahu perasaan apa yang aku rasakan ini
Aku ingin berusaha terbang menyelamatkanmu

Aku pun menumbuhkan kembali sayap hitam di punggung ini, aku tahu sayap hitam ini bukan apa-apa tapi aku tidak punya apa-apa selain sayap hitam ini. Sejauh apa pun kau melepasku kau pernah membawaku terbang setinggi ini. Seutuh mimpi. Sejauh apa pun kau terjatuh, merapuh, sebisa mungkin aku akan menangkapmu. Meski nanti aku harus tahu. Kau hanyalah malaikat bersayap hitam yang berulangkali membodohiku dalam dekapanmu. Elok yang semu. Salah yang indah.

Aku pun terbang ke atas dengan sayap hitam yang lemah. Iblis itu terlalu kuat membawamu menjauh dariku. Iblis itu terlalu kuat mendekapmu, sementara aku tidak memiliki sayap untuk mendekapmu. Tanganmu, aku melihat tanganmu bergerak perlahan meski terhalang oleh kabut kehampaan, apakah ingin menggenggamku kembali? Tidak, tangan itu acungkan aku pergi jauh darimu. Jiwaku melemah begitu juga dengan sayapku. Sejuta tanya bercerita

Apakah dekapan iblis itu terlalu hangat untukmu?
Hingga takkan kembali terbang bersamaku?
Apakah kau tidak ingin aku terlalu jauh berharap?
Dengan kepakan sayap yang terlelap?
Apakah kau melepasku?
Ataukah menghempasku?
Kenapa kau mengulangi kisah terdahulu?

Ragaku yang hina ini pun terjatuh perlahan dari sisi mereka. Terakhir kali, aku melihat kau masih menatapku dengan tatapan yang kurindu itu tapi kau membiarkan aku terjatuh merapuh dari mimpi yang begitu tinggi ini, kau tahu? Aku terjatuh lebih tinggi dari seharusnya. Kau malaikat. Kau bejat.

Aku tetap berusaha agar tidak terjatuh terlalu tinggi. Kusentuh awan tapi sekali lagi hampa. Semua ini indah yang kau rangkai tapi indah yang begitu hampa. Aku pun pasrah pada hembusan angin entah membawa raga yang hina ini pada bentangan hampa apalagi. Mata ini terpejam mengingat semua kenangan pedih yang pernah ingin aku lupakan.

Cinta pertamaku
Kau beri seutuh mimpi
Kusebut kau malaikat
Kusebut kau pangeran
Kusebut kau mahasempurna
Kusebut kau kisah abadiku
Tapi berulangkali aku tidak bisa mendekapmu
Pantas, jika kau melepasku berulangkali?

Terkapar tanya, tersadar raga ini telah terjatuh pada bentangan kehampaan, jauh dari langit yang mahasempurna. Saat itu langit menyajikan lukisan oranye dengan garis silver yang begitu tipis. Senja ini akan selalu terkunci di hati ini.

Mengunci janji pada sebongkah hati itu yang telah aku ingkari
Sebongkah hati yang memberi seutuh mimpi
Tapi pernah terselip ingkar
Untuk meninggalkannya menyentuh langit
Inikah dosa dalam raga yang hina ini?
Langit tak akan pernah bercelah untuk malaikat bersayap hitam
Untuk malaikat yang ingkar

Aku pun terdiam menunggu langit berganti kelam. Berharap malam memberi mimpi baru untukku.

Reruntuhan sayap hitam pun jatuh di sekelilingku. Aku terperanjat dari tempatku terdiam, kehangatan sayap ini pernah aku rasakan. Ini adalah reruntuhan sayap malaikatku, aku merindukannya, apakah malaikatku akan baik-baik saja? Apakah malaikatku akan merindukanku? Iya, dia baik-baik saja. Tidak, dia tidak akan merindukanku.

Aku pun menggenggam erat reruntuhan sayap hitam ini. Genggaman rindu yang berubah jadi kebencian. Begitu benci. Reruntuhan sayap dalam genggaman ini pun remuk merapuh. Serapuh elok yang pernah kau tawarkan. Serapuh mimpi yang aku genggam. Kita sama, sebagai malaikat bersayap hitam, pernah cinta, pernah ingkar tapi kau malaikat bersayap hitam yang maha sempurna. Jauh lebih hitam dari sayap pada punggungku.

Aku pun kembali berjalan pada bentangan kehampaan. Dimana hati? Dimana mimpi?
Mati.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS